Begitu
pun dakwah Kita akan mengetahui pahit manisnya dakwah dan daya tariknya dengan
merasakannya lebih dalam. Kita tidak akan tahu hanya dengan membaca,
mendeskripsikannya tanpa ikut merasakan langsung bahkan ikut lebih dalam.
Ungkapan yang juga berlaku untuk kita yang akan berkata jenuh dalam dakwah dan
amanah.
Maka
harus di landaskan dengan iman Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula
manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan
Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk
senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya
(amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan
Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada
mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan
keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan
asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad
di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24
“Katakanlah: “Jika
bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
Bila
seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di
jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha
terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi
dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya,
terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian
harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.
Ketika kita berungkap
jenuh karena alasan bahwa sekarang bukan masanya memikirkan apa yang kita
jalankan sekarang. Sudah beda zaman. Sudah beda fase. Maka pastikan dulu, hal
yang sekarang kita jalankan itu sudah selesai sehingga pantas untuk beralih ke
hal lain. Jangan-jangan untuk fase yang kecil saja kita belum selesai sudah
berbicara beralih ke fase yang lebih besar.
Jangan katakatan
jenuh………
Bisa jadi kita hanya mencari-cari
alasan untuk sekedar meninggalkan dakwah dan amanah ini. Karena kita belum
menikmatinya. Karena kita masih menganggapnya beban. Karena menganggapnya
jebakan. Karena belum benar-benar tercelup total kedalamnya. Karena belum
benar-benar ikhlas karena-Nya.
Jangan katakan jenuh………
Siapakah yang lebih pantas jenuh selain mereka
yang telah menerjunkan dirinya kedalam dakwah dan amanah ini lebih dahulu.
Bukankah mereka secara kasat mata berkutak di hal yang sama selama
bertahun-tahun. Tidakkah Itu Jenuh? Tidakkah itu membosankan? Tidakkah itu
menjemukan? Tapi kita sangat tahu bagaimana mereka hingga hari ini. Bertahan di
hal yang sama. terenung,
terpikir beberapa aktivis dakwah di lingkungan kampus, aktivitas mahasiswa
kampus yang selalu padat, tak mengeluh, ketika mereka berada dalam barisan
dakwah yang ganjaran mendapatkan pahala dan surge allah swt malah banyak
mengeluh. Karena waktu mereka terhabiskan untuk dakwah. Mereka mengangap dakwah
ini menghalang aktivitas mereka. Itulah jiwa mahasiswa sekarang mereka lebih
senang habiskan waktu mereka dengan bersadah gurau.Sedangkan aktivis dakwah
kampus yang betul-betul ihlas dalam menjalankan aktivistas dakwah tidak banyak mengeluh. Mereka justru berusaha
semaksimal mungkin untuk memanejemen aktivitas mereka dengan kebaikan yang
begitu banyak. Dari setumpuk agenda dalam sehari terpaksa harus di korbankan beberapa, dengan
berat hati mereka tak dapat menghadirinya. Tetapi mereka tak merasa legah
justruh mereka merasa menyesal.Yang membuat saya terharu, mreka semua bekerja
tanpa ada terlintas di pikiranýa imbalan untuk kepentingan diri, justru
hak-hak pribadi dikesampingkan. Semua itu sudah menjadi rutinitas, dan itu
berefek pada bahan obrolan bahkan canda dalam sehari-hari, sungguh berkualitas.
Lelah yang di rasakn itu nikmat, peluh yang mengalir berkah, pikiran yang
berbelit atasi masalah itu anugrah. Betapa luar biasanya aktivis dakwah.
Kadang menangis bersama dalam suasana mabit. Indah
sekali, air mata yang bercucuran makin membersihkan hati, tak jarang darah atau
cidera menghampiri. kami berharap apapun yg di korbankan ini bisa menjadi
hujjah disaat menghadap Allah kelak.Terlupa ada yang mengingatkan, ketika
terlalai ada yg menegur, ketika khilaf tak sadar, memperbaiki diri. Nikmat
hidayah yang sangat mahal. Belum lagi ta'limat yang bertubi-tubi. Misal sedang
mengisi acara, musrif menelpon untuk datang halaqo, dipercepat dan izin. di
dalam rapat, tidak ada memperdebatkan masalah, justru memperdebatkan banyaknya
solusi yg muncul dari anggota-anggota, semua demi kebaikan.
Rela membantu sesama kaum muslim atau teman
seperjuangan yang kesulitan meski dalam kondisi yang tak jauh berbeda dengan yang
dibantu. Ketika ukhuwah mengalahkan segalanya.
Mungkin orang-orang
bertanya, mengapa para aktivis dakwah itu memiliki agenda yg padat merayap. Ya,
begitulah hakikatnya orang beriman pasti slalu di sibukkan dengan
kebaikan-kebaikan, kalau tidak di sibukkan dengan kebaikan pasti sebaliknya,
kesasatan atau bahkan maksiat.
Ditengah kesibukan itu tetap saja bertanggung jawab terhadap
kuliah, istiqamah dengan targetan-targetan ibadah dan hafalan.
Dari mana dapatkan energi se
mulia itu. Pasti,energi itu tak kan di dapat bila tidak menjalaninýa, tak di rasa
bila hanya menonton perjalananýa. energi inilah yang di sebut oleh aktivis dakwah, ruh yang
di rasa saat kita turut serta memperjuangkan dakwah ini.
yang muncul begitu saja,
lekat sekali di rasa saat kita terbentur oleh pahitnya dakwah, juga tercelup dalam
manisnya dakwah Semua merasa.
ini pula yang
membuat mereka mampu beristiqamah, tidak membuat gerakan tambahan apalagi
hitung-hitungan dalam bekerja dan berdakwah serta bermuamalah.
Selamat saya ucapkan kepada aktivis dakwah
kampus, selamat di ucapkan bagi yang ikhlas, yang senantiasa membangun nuansa
dakwah dalam tiap aktivitas. Yang ikhlas, tidak berdakwah karna manusia, tidak
berdakwah karna berharap puji-pujian, 'harap' yg hanya akan mengotori hati
sendiri. Jagan sampai termasuk golongan pendosa yg memenangkan
dakwah yang memang telah di jamin kemenanganya seperti hadits yg di sampaikan
Rasulullah. Jangan sampai juga aktivis dakwah kampus melakukan kebaikan yang tersirat
di dalamnya kebathilan.
yang merasa belum mendapatkan ruh dalam dakwah kampus
ini, cepat dan bergegas lah seperti Umar, kembali perbaiki niat.
atau yang belum merasa
dirinya tergolong aktivis dakwah, merapatlah bersama kami, bersama kita rasakan
nikmat dan indahnya rute ini. Istiqamahlah dalam jalan kebenaran yang akan membuat
kita bergairah. tetaplah terus berjalan di atas jalan ini, kelak kita akan bertemu
di ujung Jannah allah swt.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar