DAKWAH
SEBAGAI POROS HIDUP
‘’Sesungguhnya kami telah menujutkan jalan
yang lurus; yang bersyukur dan ada pula
yang kafir.’’ (QS. AL-Insaan [76] : 3)
Dalam
pertualangan hidup ini, aku berfikir bahwa pada akhirnya, jalan akan berbagi
dua. Jalan percaya dan jalan yang ingkar. Jalan yang benar dan jalan yang
salah. Keduanya berbeda tegas. Seperti putih dan hitam, seperti putih dan hitam
dan keduanya juga berlawan seperti cahaya dan kegelapan.maka keduanya akan
bermuara, pada ujung yang berbeda tegas dan berlawanan disitulah kita akan
memilih. Dakwah, sebagai dalam hidup juga sebagai pilihan dan aku telah
memilihnya. Jalan dakwah bukanlah sesuatu yang buil in bersamaan lahirnya seorang
manusia. Seperti iman, jalan dakwah adalah hasil dari sebuah kontemplasi.
Kusadari,
membuat umat untuk memilih jalan dakwah, memiliki tangtangan tersendiri bagi
bumi Indonesia terkhusus wilayah timur. Tantangan yang kenyataanya memiliki
pergorbanan yang lebih lingkungan sosial-kulturan di indonesia cukup ideal
untuk menjadikan para penjuang dakwah terasing di bumi penciptanya sendiri.
Dakwah adalah sesuatu yang istimewa, pengembaknya akan merasakan sesuatu yang
dahsyat dari pada sekedar mendapatkan harta dan gunung emas. Aku mengambil
jalan ini jalan yang dirintis untuk
mengembalikan kemuliaan umat islam. Dakwah adalah segala-galanya dalam hidup.
Tidak ada aktivitas yang lebih baik selain berada di barisan dakwah ini.
Barisan yang akan menkokohkan hati ini.barisan orang-orang yang dekat dengan
allah dan rasulnya. Barisan yang bernilai harganya ketika kita berada dalam
barisan orang-orang yang mati syahit. Dakwah juga membuat semua umat islam
menjadi penolong agama allah swt. Maka ketika melihat kisah rasullulah dan para
sahabatnya ketika mereka berada dalam dakwah ini. Luar biasa yang mereka alami
sehingga darah mengalir di sekucup tubuh. Cacian dan pukulan bahkan lemparan
dari orang-orang kafir tak mengahalangi mereka untuk mengajak kepada kebaikan.Tapi
dengan dakwah mereka tak pernah lelah sehingga bisa menikmati surga allah swt.
Mengutik
dari perkataan syeakh taqiyuddin an-nabhani berkata bahwa dakwah islam
mengharuskan kita untuk senantiasa memiliki tujuan tertentu. Selalu terus
menerus memperhatikan tujuan tersebur. Bersungguh-sungguh dan tidak pernah
beristrahat demi tercapainya target
dakwah. Karena itu, kita dapati mereka tidak akan puas hanya sekedar berpikir tanpa
berbuat. Sebab ini hanyala khayalan yang membius. Mereka tidak akan rela
berpikir tanpa ada tujuan. Yang demikian itu mereka selalu bersikap tegas dalam
menggabulkan pemikiran dengan amal perbuatan, serta mengarahkan kedua-duanya
untuk merealisir tujuan yang mereka yang usahakan secara nyata hingga tercapai.
Dakwah
mengajak kita untuk memeluk islam di tunjukan untuk selalu memperbaiki
aqidah/kepercayaan menguatkan hubungan dengan allah swt, dan menjelaskan kepada
seluruh umat islam dengan melihat problematika kehidupan. Dengan cara ini
dakwah akan dinamis dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian
dakwah islam harus menyajikan peraturan-peraturan yang bisa memecahkan
problematikan kehidupan manusia. Sebab, rahasia keberhasilan dakwah adalah
keberadaannya yang dinamis dan mampu menyelesaikan problematika kehidupan
manusia secarah utuh, sehingga terjadi perombakan yang menyeluruh terhadap diri
manusia.
Para
pengembah dakwah tentu tidak akan sungguh memikul beban tanggu jawab dakwah dan
kewajiban-kewajibannya kecuali jika mereka menanamkan pada dirinya cita-cita
untuk mengarah pada jalan kesempurnaan. Selalu mengkaji dan mencari kebenaran.
Serta senantiasa meneliti kembali secara berulang-ulang setiap sesuatu yang sudah
mereka ketahui agar dapat di bersikan dari segalah pemikiran asing yang mampu
mempengaruhinya. Disamping itu selalu menjauhkan pemikiranya dari segalah
sesuatu yang apabila didekati akan menyebabkan pemikirannya terjerumus. Semua
itu bertujuan agar ide-ide yang mereka kembangkan tetap murni dan terpelihara.
Kemurnian ide adalah satu-satunya jaminan untuk keberhasilan yang
terus-menerus.
Disamping
itu para pengembah dakwah harus menunaikan kewajibannya sebagai sesuatu yang di
bebankan Allah di pundah mereka. Mereka melakukannya dengan gembira dan
mengharapkan keridlaan allah. Mereka tidak berharap dengan amal perjuangannya
itu imbalan tidak menungu ucapan terima kasih dan tidak mencari sesuatu apapun,
kecuali keridlaan allah semata.
Ø KUBUKA
LEMBARAN BARU
Mengawali
lembaran ini dengan sebuah kisah yang pada akhirnya akan menujutkan jalan yang
benar. Pada saat itu saya tengah duduk di salah satu asrama mahasiswa yaitu
asrama bidik misi. Aku termenu melamun di teras lobi asrama sambil melihat
pemandangan yang begitu indah yang telah di karuniakan oleh allah swt kepada
umat manusia ini. Disini lah aku sadar bahwa semua yang tengah aku lakukan
selama ini hanyala sia-sia. Begitu banyak dosa yang aku perbuat. Sambil aku
termenu tiba-tiba datanglah salah satu temanku sambil membawah salah satu buku.
Kutanyakanlah kepada teman saya buku apa yang kamu pegang, teman saya tadi pun
menjawab ini buku “peraturan hidup dalam
islam’’ buku ini yang kami kaji setiap satu pekan. Ternyata teman saya itu mau
Halaqo di mesjid dengan bimbingan seorang guru.guru ini yang mengajarkan kader-kader
islam 000. Dari sinilah aku mengenal partai politik islam internasioanal yang
terbesar di dunia.
Setelah
tiga minggu selepas pertumaan yang di lobi. saat ini Aku pun di pertemukan
dengan seorang guru yang merupakan aktivis pergerakam mahasiswa. Dari sini kami
memulai Halaqo pertama kami di salah satu mesjid kecil di dalam kampus di dekat
asrama mahasiswa bidik misi. Beliau menjelaskan islam sebegitu luar biasanya,
mulai dari spiritual, ideologi, hingga kenegaraan. pembahasan pun kiat lama
kiat menarik. saya di buat terpana dengan kesempurnaan dan rasionalitas islam
yang selama ini tidak di ketahui. Bahkan banyak muslim yang tidak mengatahuinya,
sehingga mereka tak pede dengan ke islamannya. Ternyata islam bukan hanya
tentang ibadah ritual (mahdloh). Inilah lembaran baru saya untuk selalu
berdakwah.
Saya
benar-benar terpesona dibuatnya sehinga mata dan telingah ini tak pernah lelah
untuk mendengar dan melihat. Islam benar-benar terbukti sempurna, satu-satunya
Din yang diridhoi Allah SWT. Rahmatan lil ‘alamin, bukanka umat ini akan
menjadi umat yang terbaik, jika menerapkan dan berpegang teguh pada islam. Halaqo semakin
memuncak hingga sadar telaah masuk batas waktu, karena menurut peraturannya
hanya boleh melakukan maksimal 2 jam. Di akhir pertumuan dia pun menyampaikan
bahwa pertemuan ini akan di lanjutkan pada minggu depan di jam dan di tempat
yang sama. Kemudian minggu depan itu tiba kami pun memulai pertemuan kedua di
jam yang sama dan di tempat yang sama pun. Setelah beberapa bulan kami terus
melakukannya Halaqo maka tibahlah saya masuk pada kajian buku ‘’peraturan hidup
dalam islam’’.
Inilah
awal pertemuan dengan para penjuang syariat dan khilafah. Kami di pertemukan
dalam satu jamaah yang kecil. Saya ketemulah teman-teman halaqo dari berbagai
daerah yang berbeda tempat. Dalam satu jamaah karna teman halaqo saya ada dari
daerah Endreka dan lain-lainya duduk mengkaji islam itu. Islam memang tak
mengenal ras, warna kulit dan golongan di padukan menjadi satu. Dan kesatuan
ini membawah rahmat karna dengan kesatuan maka islam itu akan menjadi kuat. Berdiri
kokoh tak ada yang membandinginya. Islam bagaikan tanah dengan batu yang tak
bisa di pisahkan. Mereka saling hidup harmonis tak ada sedikitpun menjadi
penghalang mereka. Didalam halaqo ini banyak yang kami dapatkan dari ilmu-imu
guru kami. Banyak kemudian tantangan dan rintangan dalam perjuangan dakwah kami
di kampus. Namun tak hanya itu saya dan teman-teman seperjuangan saya kerap
mendapatkan terror. Teror dari beberapa person yang merupakan bagain komunitas
yang merupakan komunitas yang menyebut dirinya intel. Tapi tak sedikit pun kami
merasa gentar. Karena sadar ujian berupa halangan, rintangan, ancaman, godaan,
dan ganguan sudah menjadi bungah perjuangan yang di pilih.
Toh,
bagi para ulama mukhlis terdahulu juga tidak pernah takut sedikitpun. Bahkan
penjara adalah wisata dan mati dalam perjuangan adalah jalan syahid menuju
surga. Hidup mulia atau mati syahid bergerak berkali-kali karna mati hanya
sekali. Kukabarkan kepada orang tua saya bahwa saya mengikuti kajian atau
Halaqo dan agenda-agenda dakwah di organisasi terbesar di dunia ini orang tua
saya pun mengijikan subhanulah jawaban yang tak saya duga-duga muncul dari
kedua orang tua.
‘’ Hai orang-orang yang
beriman, peliharaan dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras,
yang tidak mendurhakai allah terhadap apa yang di perintakanya kepada mereka dan
selalu mengajarkan apa yang di perintakanya,’’ ( QS. At-Tahrin [66] : 6)
Banyak
kemudian agenda-agenda dakwah yang saya ikuti bersama teman-teman saya di LDK dan
GEMA PEMBEBASAN. Sungguh agande terus kami lakukan bersama teman-teman
seperjuangan. Inilah orgensinya para pengembang dakwah selalu di nomor satukan
dakwah dari pada yang lain. Poros hidup para pengembah dakwah bukan harta,
jabatan dan tahta tetapi adalah dakwah. Sehingga agenda kami terus terlaksana
dengan baik dan selalu sukses. Perjuangan ini adalah investasi untuk kehidupan
nanti.
Pengorbanan
selalu ada. baik itu waktu, tenaga, pikiran dan harta selalu menghiasi dakwah
ini. Diantara yang dituntu oleh pengembah dakwah adalah pengorbanan di jalan
allah. Berkorban untuk kemenangan islam. Apalagi aktivis dakwah kampus di tuntu
untuk lebih banyak mengeluarkan hartanya di jalan allah. Allah akan membalas
semua itu dengan ganjaran surga. Rasulullah dan para sahabatnya tentu menjadi
sebuah contoh bagi kita yang hari ini terjun dalam dunia dakwah. Contoh terbaik
dalam pengorbanan yang tak tertandingi. Mereka adalah generasi yang sangat
memahami pengorbanan dalam dakwah ini adalah jalan allah dalam perwujudan dari
cintanya yang sejati kepada allah dan rasulnya.
Kita
mungkin pernah mendengar bagaimana ‘’singa allah’’ Khalid bin walid, panglima
perang gagah-berani, dengan penuh kebangaan berkata, ‘’aku lebih menyukai malam
yang sangan dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang
musuh pada pagi hari, daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama
wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan anak laki-laki.’’ (HR.
al-mubarak dan abu nu’aim).
Kita
pun mungki ingat sultan salahuddin al-ayyubi, generasi yang lebih belakangan,
begitu cintanya berkorban di jalan allah, ia lebih menikmati kehidupannya di
kemah di tengah-tengah pada pasir ketimbang hidup enak di istana. Para
sejarawan menulis setiap pembicaraan sultan selalu berkisar di seputar jihat
dan mujahidin. Ia selalu mengamati senjatanya dan lebih senang hidup di kemah
di tenggah-tenggah pada pasir.
Demikian
sekilas contoh dari generasi terbaik umat islam yang begitu cintanya terhadap
pengorbanan di jalan dakwah ini. Ingat
semuah contoh diatas adalah orang-orang yang rela mengorbankan sesuatu
baik harta, waktu, istri dan anak-anaknya bahkan yang paling berharga pada
dirinya yakni jiwa mereka demi dakwah di jalan allah.
Lantas
bagaiman dengan kita? Apakah kita sudah mengorbankan harta kita? Sering kita
lalai dalam halaqo, terkadang infak jarang kita berikan kepada musrif kita.
Apakah ini namanya pengorbanan. Yang namanya pengorbanan itu apapun agenda dakwah
dalam kumpus kita selalu sempatkan hadir. Dan ikut serta dalam menjual tiket,
menempel opini dan sebagainya.Ingatlah? Dakwah islam senantiasa menunggu
pengorbanan setiap aktivis dakwah. Ingahlah pula tegaknya islam pada masa lalu
di mana wujud daulah islam di madina telah menguras begitu banyak keringat,
airmata, bahkan darah kaum muslim. Menyita bagitu banyak harta mereka. Dan
mengorbankan begitu banyak jiwa mereka. Jangahlah kita berpikir bahwah
aktivitas dakwah adalah aktivitas sampingan dan temporer yang bisa kita lakukan
setelah kita memunuhi agenda-agenda kita dan seluruh kebutuhan kita hanya pada
saat-saat tertentu saja, misalkan ketika selesai kegiatan yang kita lakukan
dalam dakwah kampus maka habislah juga aktivitas kita. Kita bergerak katika ada
kegiatan-kegiatan besar. Coba kita menalaah kisah-kisah diatas.
Ø PERJUANGAN
HAKIKI
Nada
sumbang dalam setiap getar detik jantung ini berbunyi mengeluarkan suara dan
cerita. Ada sejuta rasa timbul dalam sebuah perjuangan di dunia kampus bersama
tim halaqo yang di penuhi aktivitas dakwah. Selama roda waktu berputar, entah
berapa banyak langka tak terhitung, sindiran dan gunjingan nada sumbang,
kekurangan nada begitu pilu setiap kisah perjuangan yang di torehkan dalam
sebuah album. Kesadaraan akan islam sebagai jalan hidup dalam pencarian
kebenaran seorang musrif mengubah jati diri sebuah tim halaqo bisa menjadi
penjuang islam. Lika-liku dasar perjuangan dan pembelajaran. Detik demi detik
minggu demi minggu sang musrif menyampaikan kepada tim halaqonya. Hingga sampai
di mana waktu tak lagi menahan kuasa untuk menahan lahirnya penjuang-penjuang
di dalam dakwah untuk melajutkan kehidupan islam. Kami mengerti perjuangan ini
tidaklah mudah penuh duri dan luka membuka setiap perjuangan baru dan
pengetahuan. Atas kebenaran yang segera di sampaikan kepada khalayak mahasiswa.
Dikala
setiap manusia mendamba dunia, ia merubah haluan kekanakan menjadi dewasa. Di
saat godaan dunia memuncak ketika tiba dewasa, aku putuskan membuat jalan baru
hidupku hanya untuk dakwah. Hari ini kami berjuang bersama dalam satu ikatan
persaudaraan demi melajutkan kehidupan islam dalam naungan khilafah. Begituhlah
hasil akhirnya seperti skor sepak bola, lebih seru menjalani pertandingan hanya
mendengarkan hasil akhir dari teman sebelah. Lebih seru menjalani dakwah
berjamaan dari pada hanya mendengarkan kisah serunya dan tidak dakwah sama
sekali. Waktu terus berlalu di masa peralihan menuju kedewasaan, banyak rasa
dan asa teruji dari mulai biaya dan perhatian keluarga.di sekolah menengah atas
saja aku hanya berbekal kemauhan tinggi untuk belajar dan selalu ingat melajutkan
ke bangku kuliah. Setiap hari selalu berjuang mengumpungkan tetes darah untuk
dipersembahkan dalam ritual pendidikan. Jarang rasanya merasakan aroma wanggi
rumah dan hangatnya selimut tebal. Semua
terlewati hanya dan jika hanya waktu terus aku gali dan bajak dengan mata
cangkul pemikiran islam.
‘’
jangan pernah menggeluh, bumi ini tak
akan menerima tetasan air mata’’
Meneruskan
sebuah prinsip untuk mandiri, setiap hela nafas menara gading. Dakwah tak
mengenal tempat dan waktu, selamat itu bukan tanpa halang ringtanga menghadap,
ratusan bahkan ribuan bukan perkara
menghitung jari atau membalikan telapa tangah yang dengan mudah kita lakukan dalam
hitungan detik. Di tambah sebuah tantangan akan syariah dan khilafah yang
disandingkan dengan banyak isu negative. Bukan iman jika tak di uji, bukan
muslim kalau tak mau terus berlari kalau hanya berangan-angan dan diam.
Naik-turun ketakwaan mewarnai dakwah, kepecayaan dipertemukan sebagai bentuk
terindah mahakarya manusia. Sartono adalah kawan saya atau tim halaqo, nama
kawan seperjuang ini ketika kami di petemukan dalam tim halaqo bersama-sama
kemudian kami berdua mengadu maju dalam perjuangan ini. Tak pernah menyerah
karna dalam mengembahkan opini islam di dalam kampus besar ini.
Kami
belajar bersama dan bercerita tentang islam dari akar sampai kedaun. Ketika
seseorang yang kita cintai karena allah swt mulai menampakan muka ceria, selajutnya
ia akan menerima setiap kebenaran dari perkataanmu. Namun setiap lika-liku
menjadi sebuah inspirasi yang meniadakan sakit pening akan ketidakpastian
jawaban dari percobaan berikutnya. Bila bisa mencoba seribu kali, maka akan
kulakukan itu dengan sungguh-sungguh cinta karena allah swt telah meresep ke
dalam setiap artikel dan mengalir menggelilingi tubuh ini berkali-kali.
Rasalullah saw besabda
‘’ barang siapa mengajak kepada petunjuk allah, maka ia akan mendapatkanya
pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa di kurangi
sedipun oleh pahala mereka.’’ (hr. muslim)
Sabda
diatas sudah cukup menjadi alasan untuk bertahan di jalan dakwah ini. Tidak ada
yang dapat menjamin bahwa amalan yang kita lakukan sehari-hari akan membuat
gemuk rekening pahala kita. Pahala yang di dapat dari dakwah ini insyaallah
akan turut menjadi cadangan amal kita saat di timbang di yaumul mizan nanti.
Insyaallah
menebar kebaikan ini termaksud kedalam salah satu dari amalan yang tidak akan
pernah terputus walau ruh telah terpisah dari raga. Semakin kuat petik dawai,
makin merdu nada berlarian saling kejar-kejaran membentuk sebuah keturunan
bentuk dalam alunan sonar dan bunyi nyayian sunyi. Dakwah, begitulah adanya
ketika kita melakukan sebuah aktivitas hari ini. Tidak adalah harapan tutur
kata berada dalam barisan kolom-kolom rubric surat kabar nasional. namun akan
banyak binar- binar mata menghantang sebuah perubahan diri dan mengorbangkan
kembali sebuah kata tertual makna. Jaganlah pahitnya obat menghalangi upaya
bersehat. Ada asap yang mungandara pasti ada sekam terbakar api, selalu ada
sebab dan akibat dalam kehidupan, namun campur tangan allah swt memiliki andil
lebih besar sekedar peluang usaha manusia biasa.
Pertama
memikirkan kata ‘ideal’, beberapa kata terlintas begitu saja di benak:
pengkaderan yang sehat, syi’arnya kuat, manajemennya tepat, fikroh dan
orientasinya selamat, rekrutmennya semangat, progresnya cepat, dan jaringannya
kuat. Namun naif rasanya menyebut ini sebagai ideal. Pasalnya kadar idealisme
itu relatif, tergantung pada bahasanya. Beda persepsi, beda pula kadar
idealismenya. Terlebih tulisan ini menyoal dakwah kampus pada tataran konsep,
yang secara prinsipil merupakan kerangka tubuh atas pergerakan dakwah di
kampus. Jelas perkara yang tak boleh main-main, bukan? Pun begitu, adalah wajib
bagi seorang aktivis dakwah kampus untuk memahami konsep dakwah kampus,
sehingga ada korelasi antara pemahaman dan pergerakan.
Dakwah
kampus memang terasa sulit untuk kita bayangkan. Tetapi ketika kita berkecimput
di dalam dakwah kampus maka kita akan tau apa yang sedang terjadi. Seseorang
aktivis dakwah kampus akan banyak mengalami suasana terharum bila mana ia
menjalani dakwah dengan sungguh-sungguh. Karna di sana banyak umat yang harus
kita perhatikan.
Keterlibatan
setiap individu muslim dalam sebuah jamaah dakwah jelas merupakan kewajiban
dari allah swt. Namun demikian, kewajiban dakwah secarah berjamaah ini bukan
berarti mengugurkan kewajiban dakwah fardiyah (individual/personal). Dakwah
fardiyah tidak lain merupakan pilar penopang dakwah secarah berjamaah.
Sayangnya,
ada semacam ‘sindrom’ yang, disadari atau tidak, sering diindahkan oleh
sebagaian aktivis dakwah kampus dalam berjamaah. Bergabung dalam aktivis dakwah
kampus, bahkan menjadi anggota tetap dalam organisasi. Tidak sedikit aktivis
dakwah kampus merasa hanya karena mereka tercatat sebagai anggota jamaah
dakwah. Padahal mungki mereka lakukan bertahun-tahun membayar infak, atau
membaca bulletin dakwah. Secara fardiyah, tidak ada yang di lakukan selain itu.
Tidak melakukan kontak-kontak dakwah secarah individual. Tidak melakukan
pembinaan, tidak mengisi acara-acara pengajian. Tidak juga memperluaskan
ide-ide yang diadopsi jamaahnya. Meski sekedar dengan menyebarluaskan bulletin
dakwah sekaligus menjelaskan isinya kepada masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar