Senin, 14 September 2015



DAKWAH SEBAGAI POROS HIDUP
’Sesungguhnya kami telah menujutkan jalan yang lurus; yang  bersyukur dan ada pula yang kafir.’’ (QS. AL-Insaan [76] : 3)
Dalam pertualangan hidup ini, aku berfikir bahwa pada akhirnya, jalan akan berbagi dua. Jalan percaya dan jalan yang ingkar. Jalan yang benar dan jalan yang salah. Keduanya berbeda tegas. Seperti putih dan hitam, seperti putih dan hitam dan keduanya juga berlawan seperti cahaya dan kegelapan.maka keduanya akan bermuara, pada ujung yang berbeda tegas dan berlawanan disitulah kita akan memilih. Dakwah, sebagai dalam hidup juga sebagai pilihan dan aku telah memilihnya. Jalan dakwah bukanlah sesuatu yang buil in bersamaan lahirnya seorang manusia. Seperti iman, jalan dakwah adalah hasil dari sebuah kontemplasi.
Kusadari, membuat umat untuk memilih jalan dakwah, memiliki tangtangan tersendiri bagi bumi Indonesia terkhusus wilayah timur. Tantangan yang kenyataanya memiliki pergorbanan yang lebih lingkungan sosial-kulturan di indonesia cukup ideal untuk menjadikan para penjuang dakwah terasing di bumi penciptanya sendiri. Dakwah adalah sesuatu yang istimewa, pengembaknya akan merasakan sesuatu yang dahsyat dari pada sekedar mendapatkan harta dan gunung emas. Aku mengambil jalan ini jalan yang  dirintis untuk mengembalikan kemuliaan umat islam. Dakwah adalah segala-galanya dalam hidup. Tidak ada aktivitas yang lebih baik selain berada di barisan dakwah ini. Barisan yang akan menkokohkan hati ini.barisan orang-orang yang dekat dengan allah dan rasulnya. Barisan yang bernilai harganya ketika kita berada dalam barisan orang-orang yang mati syahit. Dakwah juga membuat semua umat islam menjadi penolong agama allah swt. Maka ketika melihat kisah rasullulah dan para sahabatnya ketika mereka berada dalam dakwah ini. Luar biasa yang mereka alami sehingga darah mengalir di sekucup tubuh. Cacian dan pukulan bahkan lemparan dari orang-orang kafir tak mengahalangi mereka untuk mengajak kepada kebaikan.Tapi dengan dakwah mereka tak pernah lelah sehingga bisa menikmati surga allah swt.
Mengutik dari perkataan syeakh taqiyuddin an-nabhani berkata bahwa dakwah islam mengharuskan kita untuk senantiasa memiliki tujuan tertentu. Selalu terus menerus memperhatikan tujuan tersebur. Bersungguh-sungguh dan tidak pernah beristrahat  demi tercapainya target dakwah. Karena itu, kita dapati mereka tidak akan puas hanya sekedar berpikir tanpa berbuat. Sebab ini hanyala khayalan yang membius. Mereka tidak akan rela berpikir tanpa ada tujuan. Yang demikian itu mereka selalu bersikap tegas dalam menggabulkan pemikiran dengan amal perbuatan, serta mengarahkan kedua-duanya untuk merealisir tujuan yang mereka yang usahakan secara nyata hingga tercapai.
Dakwah mengajak kita untuk memeluk islam di tunjukan untuk selalu memperbaiki aqidah/kepercayaan menguatkan hubungan dengan allah swt, dan menjelaskan kepada seluruh umat islam dengan melihat problematika kehidupan. Dengan cara ini dakwah akan dinamis dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian dakwah islam harus menyajikan peraturan-peraturan yang bisa memecahkan problematikan kehidupan manusia. Sebab, rahasia keberhasilan dakwah adalah keberadaannya yang dinamis dan mampu menyelesaikan problematika kehidupan manusia secarah utuh, sehingga terjadi perombakan yang menyeluruh terhadap diri manusia.
Para pengembah dakwah tentu tidak akan sungguh memikul beban tanggu jawab dakwah dan kewajiban-kewajibannya kecuali jika mereka menanamkan pada dirinya cita-cita untuk mengarah pada jalan kesempurnaan. Selalu mengkaji dan mencari kebenaran. Serta senantiasa meneliti kembali secara berulang-ulang setiap sesuatu yang sudah mereka ketahui agar dapat di bersikan dari segalah pemikiran asing yang mampu mempengaruhinya. Disamping itu selalu menjauhkan pemikiranya dari segalah sesuatu yang apabila didekati akan menyebabkan pemikirannya terjerumus. Semua itu bertujuan agar ide-ide yang mereka kembangkan tetap murni dan terpelihara. Kemurnian ide adalah satu-satunya jaminan untuk keberhasilan yang terus-menerus.
Disamping itu para pengembah dakwah harus menunaikan kewajibannya sebagai sesuatu yang di bebankan Allah di pundah mereka. Mereka melakukannya dengan gembira dan mengharapkan keridlaan allah. Mereka tidak berharap dengan amal perjuangannya itu imbalan tidak menungu ucapan terima kasih dan tidak mencari sesuatu apapun, kecuali keridlaan allah semata.
Ø  KUBUKA LEMBARAN BARU
Mengawali lembaran ini dengan sebuah kisah yang pada akhirnya akan menujutkan jalan yang benar. Pada saat itu saya tengah duduk di salah satu asrama mahasiswa yaitu asrama bidik misi. Aku termenu melamun di teras lobi asrama sambil melihat pemandangan yang begitu indah yang telah di karuniakan oleh allah swt kepada umat manusia ini. Disini lah aku sadar bahwa semua yang tengah aku lakukan selama ini hanyala sia-sia. Begitu banyak dosa yang aku perbuat. Sambil aku termenu tiba-tiba datanglah salah satu temanku sambil membawah salah satu buku. Kutanyakanlah kepada teman saya buku apa yang kamu pegang, teman saya tadi pun menjawab ini buku “peraturan hidup  dalam islam’’ buku ini yang kami kaji setiap satu pekan. Ternyata teman saya itu mau Halaqo di mesjid dengan bimbingan seorang guru.guru ini yang mengajarkan kader-kader islam 000. Dari sinilah aku mengenal partai politik islam internasioanal yang terbesar di dunia.
Setelah tiga minggu selepas pertumaan yang di lobi. saat ini Aku pun di pertemukan dengan seorang guru yang merupakan aktivis pergerakam mahasiswa. Dari sini kami memulai Halaqo pertama kami di salah satu mesjid kecil di dalam kampus di dekat asrama mahasiswa bidik misi. Beliau menjelaskan islam sebegitu luar biasanya, mulai dari spiritual, ideologi, hingga kenegaraan. pembahasan pun kiat lama kiat menarik. saya di buat terpana dengan kesempurnaan dan rasionalitas islam yang selama ini tidak di ketahui. Bahkan banyak muslim yang tidak mengatahuinya, sehingga mereka tak pede dengan ke islamannya. Ternyata islam bukan hanya tentang ibadah ritual (mahdloh). Inilah lembaran baru saya untuk selalu berdakwah.
Saya benar-benar terpesona dibuatnya sehinga mata dan telingah ini tak pernah lelah untuk mendengar dan melihat. Islam benar-benar terbukti sempurna, satu-satunya Din yang diridhoi Allah SWT. Rahmatan lil ‘alamin, bukanka umat ini akan menjadi umat yang terbaik, jika menerapkan  dan berpegang teguh pada islam. Halaqo semakin memuncak hingga sadar telaah masuk batas waktu, karena menurut peraturannya hanya boleh melakukan maksimal 2 jam. Di akhir pertumuan dia pun menyampaikan bahwa pertemuan ini akan di lanjutkan pada minggu depan di jam dan di tempat yang sama. Kemudian minggu depan itu tiba kami pun memulai pertemuan kedua di jam yang sama dan di tempat yang sama pun. Setelah beberapa bulan kami terus melakukannya Halaqo maka tibahlah saya masuk pada kajian buku ‘’peraturan hidup dalam islam’’.
Inilah awal pertemuan dengan para penjuang syariat dan khilafah. Kami di pertemukan dalam satu jamaah yang kecil. Saya ketemulah teman-teman halaqo dari berbagai daerah yang berbeda tempat. Dalam satu jamaah karna teman halaqo saya ada dari daerah Endreka dan lain-lainya duduk mengkaji islam itu. Islam memang tak mengenal ras, warna kulit dan golongan di padukan menjadi satu. Dan kesatuan ini membawah rahmat karna dengan kesatuan maka islam itu akan menjadi kuat. Berdiri kokoh tak ada yang membandinginya. Islam bagaikan tanah dengan batu yang tak bisa di pisahkan. Mereka saling hidup harmonis tak ada sedikitpun menjadi penghalang mereka. Didalam halaqo ini banyak yang kami dapatkan dari ilmu-imu guru kami. Banyak kemudian tantangan dan rintangan dalam perjuangan dakwah kami di kampus. Namun tak hanya itu saya dan teman-teman seperjuangan saya kerap mendapatkan terror. Teror dari beberapa person yang merupakan bagain komunitas yang merupakan komunitas yang menyebut dirinya intel. Tapi tak sedikit pun kami merasa gentar. Karena sadar ujian berupa halangan, rintangan, ancaman, godaan, dan ganguan sudah menjadi bungah perjuangan yang di pilih.
Toh, bagi para ulama mukhlis terdahulu juga tidak pernah takut sedikitpun. Bahkan penjara adalah wisata dan mati dalam perjuangan adalah jalan syahid menuju surga. Hidup mulia atau mati syahid bergerak berkali-kali karna mati hanya sekali. Kukabarkan kepada orang tua saya bahwa saya mengikuti kajian atau Halaqo dan agenda-agenda dakwah di organisasi terbesar di dunia ini orang tua saya pun mengijikan subhanulah jawaban yang tak saya duga-duga muncul dari kedua orang tua.
‘’ Hai orang-orang yang beriman, peliharaan dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai allah terhadap apa yang di perintakanya kepada mereka dan selalu mengajarkan apa yang di perintakanya,’’ ( QS. At-Tahrin [66] : 6)
Banyak kemudian agenda-agenda dakwah yang saya ikuti bersama teman-teman saya di LDK dan GEMA PEMBEBASAN. Sungguh agande terus kami lakukan bersama teman-teman seperjuangan. Inilah orgensinya para pengembang dakwah selalu di nomor satukan dakwah dari pada yang lain. Poros hidup para pengembah dakwah bukan harta, jabatan dan tahta tetapi adalah dakwah. Sehingga agenda kami terus terlaksana dengan baik dan selalu sukses. Perjuangan ini adalah investasi untuk kehidupan nanti.
Pengorbanan selalu ada. baik itu waktu, tenaga, pikiran dan harta selalu menghiasi dakwah ini. Diantara yang dituntu oleh pengembah dakwah adalah pengorbanan di jalan allah. Berkorban untuk kemenangan islam. Apalagi aktivis dakwah kampus di tuntu untuk lebih banyak mengeluarkan hartanya di jalan allah. Allah akan membalas semua itu dengan ganjaran surga. Rasulullah dan para sahabatnya tentu menjadi sebuah contoh bagi kita yang hari ini terjun dalam dunia dakwah. Contoh terbaik dalam pengorbanan yang tak tertandingi. Mereka adalah generasi yang sangat memahami pengorbanan dalam dakwah ini adalah jalan allah dalam perwujudan dari cintanya yang sejati kepada allah dan rasulnya.
Kita mungkin pernah mendengar bagaimana ‘’singa allah’’ Khalid bin walid, panglima perang gagah-berani, dengan penuh kebangaan berkata, ‘’aku lebih menyukai malam yang sangan dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi hari, daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan anak laki-laki.’’ (HR. al-mubarak dan abu nu’aim).
Kita pun mungki ingat sultan salahuddin al-ayyubi, generasi yang lebih belakangan, begitu cintanya berkorban di jalan allah, ia lebih menikmati kehidupannya di kemah di tengah-tengah pada pasir ketimbang hidup enak di istana. Para sejarawan menulis setiap pembicaraan sultan selalu berkisar di seputar jihat dan mujahidin. Ia selalu mengamati senjatanya dan lebih senang hidup di kemah di tenggah-tenggah pada pasir.
Demikian sekilas contoh dari generasi terbaik umat islam yang begitu cintanya terhadap pengorbanan di jalan dakwah ini. Ingat  semuah contoh diatas adalah orang-orang yang rela mengorbankan sesuatu baik harta, waktu, istri dan anak-anaknya bahkan yang paling berharga pada dirinya yakni jiwa mereka demi dakwah di jalan allah.  
Lantas bagaiman dengan kita? Apakah kita sudah mengorbankan harta kita? Sering kita lalai dalam halaqo, terkadang infak jarang kita berikan kepada musrif kita. Apakah ini namanya pengorbanan. Yang namanya pengorbanan itu apapun agenda dakwah dalam kumpus kita selalu sempatkan hadir. Dan ikut serta dalam menjual tiket, menempel opini dan sebagainya.Ingatlah? Dakwah islam senantiasa menunggu pengorbanan setiap aktivis dakwah. Ingahlah pula tegaknya islam pada masa lalu di mana wujud daulah islam di madina telah menguras begitu banyak keringat, airmata, bahkan darah kaum muslim. Menyita bagitu banyak harta mereka. Dan mengorbankan begitu banyak jiwa mereka. Jangahlah kita berpikir bahwah aktivitas dakwah adalah aktivitas sampingan dan temporer yang bisa kita lakukan setelah kita memunuhi agenda-agenda kita dan seluruh kebutuhan kita hanya pada saat-saat tertentu saja, misalkan ketika selesai kegiatan yang kita lakukan dalam dakwah kampus maka habislah juga aktivitas kita. Kita bergerak katika ada kegiatan-kegiatan besar. Coba kita menalaah kisah-kisah diatas.
Ø  PERJUANGAN HAKIKI
Nada sumbang dalam setiap getar detik jantung ini berbunyi mengeluarkan suara dan cerita. Ada sejuta rasa timbul dalam sebuah perjuangan di dunia kampus bersama tim halaqo yang di penuhi aktivitas dakwah. Selama roda waktu berputar, entah berapa banyak langka tak terhitung, sindiran dan gunjingan nada sumbang, kekurangan nada begitu pilu setiap kisah perjuangan yang di torehkan dalam sebuah album. Kesadaraan akan islam sebagai jalan hidup dalam pencarian kebenaran seorang musrif mengubah jati diri sebuah tim halaqo bisa menjadi penjuang islam. Lika-liku dasar perjuangan dan pembelajaran. Detik demi detik minggu demi minggu sang musrif menyampaikan kepada tim halaqonya. Hingga sampai di mana waktu tak lagi menahan kuasa untuk menahan lahirnya penjuang-penjuang di dalam dakwah untuk melajutkan kehidupan islam. Kami mengerti perjuangan ini tidaklah mudah penuh duri dan luka membuka setiap perjuangan baru dan pengetahuan. Atas kebenaran yang segera di sampaikan kepada khalayak mahasiswa.  
Dikala setiap manusia mendamba dunia, ia merubah haluan kekanakan menjadi dewasa. Di saat godaan dunia memuncak ketika tiba dewasa, aku putuskan membuat jalan baru hidupku hanya untuk dakwah. Hari ini kami berjuang bersama dalam satu ikatan persaudaraan demi melajutkan kehidupan islam dalam naungan khilafah. Begituhlah hasil akhirnya seperti skor sepak bola, lebih seru menjalani pertandingan hanya mendengarkan hasil akhir dari teman sebelah. Lebih seru menjalani dakwah berjamaan dari pada hanya mendengarkan kisah serunya dan tidak dakwah sama sekali. Waktu terus berlalu di masa peralihan menuju kedewasaan, banyak rasa dan asa teruji dari mulai biaya dan perhatian keluarga.di sekolah menengah atas saja aku hanya berbekal kemauhan tinggi untuk belajar dan selalu ingat melajutkan ke bangku kuliah. Setiap hari selalu berjuang mengumpungkan tetes darah untuk dipersembahkan dalam ritual pendidikan. Jarang rasanya merasakan aroma wanggi rumah dan hangatnya  selimut tebal. Semua terlewati hanya dan jika hanya waktu terus aku gali dan bajak dengan mata cangkul pemikiran islam.
‘’ jangan pernah menggeluh, bumi ini tak akan menerima tetasan air mata’’
Meneruskan sebuah prinsip untuk mandiri, setiap hela nafas menara gading. Dakwah tak mengenal tempat dan waktu, selamat itu bukan tanpa halang ringtanga menghadap, ratusan bahkan ribuan  bukan perkara menghitung jari atau membalikan telapa tangah yang dengan mudah kita lakukan dalam hitungan detik. Di tambah sebuah tantangan akan syariah dan khilafah yang disandingkan dengan banyak isu negative. Bukan iman jika tak di uji, bukan muslim kalau tak mau terus berlari kalau hanya berangan-angan dan diam. Naik-turun ketakwaan mewarnai dakwah, kepecayaan dipertemukan sebagai bentuk terindah mahakarya manusia. Sartono adalah kawan saya atau tim halaqo, nama kawan seperjuang ini ketika kami di petemukan dalam tim halaqo bersama-sama kemudian kami berdua mengadu maju dalam perjuangan ini. Tak pernah menyerah karna dalam mengembahkan opini islam di dalam kampus besar ini.   
Kami belajar bersama dan bercerita tentang islam dari akar sampai kedaun. Ketika seseorang yang kita cintai karena allah swt mulai menampakan muka ceria, selajutnya ia akan menerima setiap kebenaran dari perkataanmu. Namun setiap lika-liku menjadi sebuah inspirasi yang meniadakan sakit pening akan ketidakpastian jawaban dari percobaan berikutnya. Bila bisa mencoba seribu kali, maka akan kulakukan itu dengan sungguh-sungguh cinta karena allah swt telah meresep ke dalam setiap artikel dan mengalir menggelilingi tubuh ini berkali-kali.
Rasalullah saw besabda ‘’ barang siapa mengajak kepada petunjuk allah, maka ia akan mendapatkanya pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa di kurangi sedipun oleh pahala mereka.’’ (hr. muslim)
Sabda diatas sudah cukup menjadi alasan untuk bertahan di jalan dakwah ini. Tidak ada yang dapat menjamin bahwa amalan yang kita lakukan sehari-hari akan membuat gemuk rekening pahala kita. Pahala yang di dapat dari dakwah ini insyaallah akan turut menjadi cadangan amal kita saat di timbang di yaumul mizan nanti.
Insyaallah menebar kebaikan ini termaksud kedalam salah satu dari amalan yang tidak akan pernah terputus walau ruh telah terpisah dari raga. Semakin kuat petik dawai, makin merdu nada berlarian saling kejar-kejaran membentuk sebuah keturunan bentuk dalam alunan sonar dan bunyi nyayian sunyi. Dakwah, begitulah adanya ketika kita melakukan sebuah aktivitas hari ini. Tidak adalah harapan tutur kata berada dalam barisan kolom-kolom rubric surat kabar nasional. namun akan banyak binar- binar mata menghantang sebuah perubahan diri dan mengorbangkan kembali sebuah kata tertual makna. Jaganlah pahitnya obat menghalangi upaya bersehat. Ada asap yang mungandara pasti ada sekam terbakar api, selalu ada sebab dan akibat dalam kehidupan, namun campur tangan allah swt memiliki andil lebih besar sekedar peluang usaha manusia biasa.
Pertama memikirkan kata ‘ideal’, beberapa kata terlintas begitu saja di benak: pengkaderan yang sehat, syi’arnya kuat, manajemennya tepat, fikroh dan orientasinya selamat, rekrutmennya semangat, progresnya cepat, dan jaringannya kuat. Namun naif rasanya menyebut ini sebagai ideal. Pasalnya kadar idealisme itu relatif, tergantung pada bahasanya. Beda persepsi, beda pula kadar idealismenya. Terlebih tulisan ini menyoal dakwah kampus pada tataran konsep, yang secara prinsipil merupakan kerangka tubuh atas pergerakan dakwah di kampus. Jelas perkara yang tak boleh main-main, bukan? Pun begitu, adalah wajib bagi seorang aktivis dakwah kampus untuk memahami konsep dakwah kampus, sehingga ada korelasi antara pemahaman dan pergerakan.
Dakwah kampus memang terasa sulit untuk kita bayangkan. Tetapi ketika kita berkecimput di dalam dakwah kampus maka kita akan tau apa yang sedang terjadi. Seseorang aktivis dakwah kampus akan banyak mengalami suasana terharum bila mana ia menjalani dakwah dengan sungguh-sungguh. Karna di sana banyak umat yang harus kita perhatikan.
Keterlibatan setiap individu muslim dalam sebuah jamaah dakwah jelas merupakan kewajiban dari allah swt. Namun demikian, kewajiban dakwah secarah berjamaah ini bukan berarti mengugurkan kewajiban dakwah fardiyah (individual/personal). Dakwah fardiyah tidak lain merupakan pilar penopang dakwah secarah berjamaah.
Sayangnya, ada semacam ‘sindrom’ yang, disadari atau tidak, sering diindahkan oleh sebagaian aktivis dakwah kampus dalam berjamaah. Bergabung dalam aktivis dakwah kampus, bahkan menjadi anggota tetap dalam organisasi. Tidak sedikit aktivis dakwah kampus merasa hanya karena mereka tercatat sebagai anggota jamaah dakwah. Padahal mungki mereka lakukan bertahun-tahun membayar infak, atau membaca bulletin dakwah. Secara fardiyah, tidak ada yang di lakukan selain itu. Tidak melakukan kontak-kontak dakwah secarah individual. Tidak melakukan pembinaan, tidak mengisi acara-acara pengajian. Tidak juga memperluaskan ide-ide yang diadopsi jamaahnya. Meski sekedar dengan menyebarluaskan bulletin dakwah sekaligus menjelaskan isinya kepada masyarakat. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar