Kamis, 10 September 2015



Begitu pun dakwah Kita akan mengetahui pahit manisnya dakwah dan daya tariknya dengan merasakannya lebih dalam. Kita tidak akan tahu hanya dengan membaca, mendeskripsikannya tanpa ikut merasakan langsung bahkan ikut lebih dalam. Ungkapan yang juga berlaku untuk kita yang akan berkata jenuh dalam dakwah dan amanah.
Maka harus di landaskan dengan iman Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24

“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.
               Ketika kita berungkap jenuh karena alasan bahwa sekarang bukan masanya memikirkan apa yang kita jalankan sekarang. Sudah beda zaman. Sudah beda fase. Maka pastikan dulu, hal yang sekarang kita jalankan itu sudah selesai sehingga pantas untuk beralih ke hal lain. Jangan-jangan untuk fase yang kecil saja kita belum selesai sudah berbicara beralih ke fase yang lebih besar.

     Jangan katakatan jenuh………

Bisa jadi kita hanya mencari-cari alasan untuk sekedar meninggalkan dakwah dan amanah ini. Karena kita belum menikmatinya. Karena kita masih menganggapnya beban. Karena menganggapnya jebakan. Karena belum benar-benar tercelup total kedalamnya. Karena belum benar-benar ikhlas karena-Nya.

        Jangan katakan jenuh………

 Siapakah yang lebih pantas jenuh selain mereka yang telah menerjunkan dirinya kedalam dakwah dan amanah ini lebih dahulu. Bukankah mereka secara kasat mata berkutak di hal yang sama selama bertahun-tahun. Tidakkah Itu Jenuh? Tidakkah itu membosankan? Tidakkah itu menjemukan? Tapi kita sangat tahu bagaimana mereka hingga hari ini. Bertahan di hal yang sama. terenung, terpikir beberapa aktivis dakwah di lingkungan kampus, aktivitas mahasiswa kampus yang selalu padat, tak mengeluh, ketika mereka berada dalam barisan dakwah yang ganjaran mendapatkan pahala dan surge allah swt malah banyak mengeluh. Karena waktu mereka terhabiskan untuk dakwah. Mereka mengangap dakwah ini menghalang aktivitas mereka. Itulah jiwa mahasiswa sekarang mereka lebih senang habiskan waktu mereka dengan bersadah gurau.Sedangkan aktivis dakwah kampus yang betul-betul ihlas dalam menjalankan aktivistas dakwah  tidak banyak mengeluh. Mereka justru berusaha semaksimal mungkin untuk memanejemen aktivitas mereka dengan kebaikan yang begitu banyak. Dari setumpuk agenda dalam sehari  terpaksa harus di korbankan beberapa, dengan berat hati mereka tak dapat menghadirinya. Tetapi mereka tak merasa legah justruh mereka merasa menyesal.Yang membuat saya terharu, mreka semua bekerja tanpa ada terlintas di pikiranýa imbalan untuk kepentingan diri, justru hak-hak pribadi dikesampingkan. Semua itu sudah menjadi rutinitas, dan itu berefek pada bahan obrolan bahkan canda dalam sehari-hari, sungguh berkualitas. Lelah yang di rasakn itu nikmat, peluh yang mengalir berkah, pikiran yang berbelit atasi masalah itu anugrah. Betapa luar biasanya aktivis dakwah.
Kadang menangis bersama dalam suasana mabit. Indah sekali, air mata yang bercucuran makin membersihkan hati, tak jarang darah atau cidera menghampiri. kami berharap apapun yg di korbankan ini bisa menjadi hujjah disaat menghadap Allah kelak.Terlupa ada yang mengingatkan, ketika terlalai ada yg menegur, ketika khilaf tak sadar, memperbaiki diri. Nikmat hidayah yang sangat mahal. Belum lagi ta'limat yang bertubi-tubi. Misal sedang mengisi acara, musrif menelpon untuk datang halaqo, dipercepat dan izin. di dalam rapat, tidak ada memperdebatkan masalah, justru memperdebatkan banyaknya solusi yg muncul dari anggota-anggota, semua demi kebaikan.
Rela membantu sesama kaum muslim atau teman seperjuangan yang kesulitan meski dalam kondisi yang tak jauh berbeda dengan yang dibantu. Ketika ukhuwah mengalahkan segalanya. Mungkin orang-orang bertanya, mengapa para aktivis dakwah itu memiliki agenda yg padat merayap. Ya, begitulah hakikatnya orang beriman pasti slalu di sibukkan dengan kebaikan-kebaikan, kalau tidak di sibukkan dengan kebaikan pasti sebaliknya, kesasatan atau bahkan maksiat.
Ditengah kesibukan itu tetap saja bertanggung jawab terhadap kuliah, istiqamah dengan targetan-targetan ibadah dan hafalan. Dari mana dapatkan energi se mulia itu. Pasti,energi itu tak kan di dapat bila tidak menjalaninýa, tak di rasa bila hanya menonton perjalananýa. energi inilah yang di sebut oleh aktivis dakwah, ruh yang di rasa saat kita turut serta memperjuangkan dakwah ini. yang muncul begitu saja, lekat sekali di rasa saat kita terbentur oleh pahitnya dakwah, juga tercelup dalam manisnya dakwah Semua merasa.
 ini pula yang membuat mereka mampu beristiqamah, tidak membuat gerakan tambahan apalagi hitung-hitungan dalam bekerja dan berdakwah serta bermuamalah.  Selamat saya ucapkan kepada aktivis dakwah kampus, selamat di ucapkan bagi yang ikhlas, yang senantiasa membangun nuansa dakwah dalam tiap aktivitas. Yang ikhlas, tidak berdakwah karna manusia, tidak berdakwah karna berharap puji-pujian, 'harap' yg hanya akan mengotori hati sendiri. Jagan sampai termasuk golongan pendosa yg memenangkan dakwah yang memang telah di jamin kemenanganya seperti hadits yg di sampaikan Rasulullah. Jangan sampai juga aktivis dakwah kampus melakukan kebaikan yang tersirat di dalamnya kebathilan.
yang merasa belum mendapatkan ruh dalam dakwah kampus ini, cepat dan bergegas lah seperti Umar, kembali perbaiki niat. atau yang belum merasa dirinya tergolong aktivis dakwah, merapatlah bersama kami, bersama kita rasakan nikmat dan indahnya rute ini. Istiqamahlah dalam jalan kebenaran yang akan membuat kita bergairah. tetaplah terus berjalan di atas jalan ini, kelak kita akan bertemu di ujung Jannah allah swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar