Apakah
cuma lelaki yang memandang? Apa yang terjadi jika perempuan yang menjadi
pengamat? Apa yang terjadi jika perempuan memandang perempuan?
Esai-esai
tentang budaya populer yang terdapat dalam buku ini mengupas berbagai
kontradiksi dan kemungkinan dalam citra baru perempuan-perempuan perkasa
seperti Cagney dan Lacey, Edwina Currie atau Madonna. Apakah Alexis Carrington
memang mewakili sisi liar perempuan atau sekadar contoh lain dari seks yang
dikaitkan dengan kapitalisme? Dan apa yang telah dilakukan oleh film Spielberg
pada The Color Purple?
Apakah
pandangan perempuan dibuat untuk memenuhi ideologi ‘lelaki’ seperti
‘undang-undang’ atau etika kerja Protestan? Atau, apakah tindakan kepenontonan
perempuan yang aktif adalah sesuatu yang sulit dihadapi bahkan bagi kritik film
feminis?
Kedua
penyunting naskah asli buku in iadalah dosen bidang kajian perempuan, Lorraine
Gamman mengajar di Middlesex Polytechnic dan Margaret Marshment mengajar di
University of Kent.
Buku
ini membahas
1.
Mengamati Sang Detektif; Teka-teki Tatapan Perempuan
2.
Perempuan Terpandang
3.
Lihatlah Dirimu, Nak!
4.
The Color Purple: Mempertahankan Akhir yang Bahagia
5.
Lolita Bertemu Serigala: The Company of Wolves
6.
Lace: Pornografi untuk Perempuan?
7.
Joan Collins dan Sisi Liar Perempuan: Mengupas Kenikmatan dan Representasi
8.
Mati-matian Mencari Perbedaan
9.
Pandangan Kaum Kulit Hitam
10.
Status Perempuan yang Bekerja di Perfilman dan Pertelevisian
11.
Mengeruk Keuntungan dari Takhayul Iklan dan Pelbagai Hal yang Dianggap Tabu
Ketika Menstruasi
12.
Sudikah Bergabung dengan Saya dalam Dansa Tanggo Tingkat Tinggi? Posmoderisme
dan ‘Perempuan Baru’
13.
Feminisme dan Politik Kekuasaan: Sebenarnya, Tatapan Siapa?
Tentang
Para Kontributor
Suzanne
Moore sedang melakukan penelitian untuk gelar PhD-nya tentang teori kenikmatan
di Middlesex Polytechnic. Di sana ia juga mengajar secara paruh waktu Cultural
Studies. Ia juga mengajar di St Martin’s School of Art dan bekerja sebagai
jurnalis dan penulis lepas.
Andrea
Stuart adalah jurnalis lepas, bekerja di penerbitan dan sekarang adalah anggota
perkumpulan Spare Rib.
Maggie
Anwell bekerja di bagian proyek penelitian nasional yang meneliti kondisi seni
dalam pendidikan. Ia terlibat dalam komunitas seni, pendidikan, dan teater
selama dua puluh tahun terkahir ini, termasuk bekerja untuk Open University
(Universitas Terbuka) bidang Seni dan Lingkungan.
Avis
Lewallen sedang menyelesaikan gelar MA dalam bidang Kajian Perempuan di
University of Kent, menulis tentang seksualitas, fiksi, dan feminisme. Ia juga
menulis dalam antologi cerita pendek Angela Carter ,The Bloody Chamber dan
dalam buku Perspective on Pornography: Sexuality in Literature and Film, yang
disunting oleh Gary Day dan Clive Bloom, diterbitkan Macmillan, Musim Gugur
1988.
Belinda
Budge mengajar secara paruh waktu dalam bidang Kajian Perempuan dan Kajian Film
serta menyelesaikan gelar PhD di Middlesex Polytechnic dengan meneliti
kemunculan sinema perempuan independen di Inggris pada 1980-an.
Jackie
Stacey adalah mahasiswa PhD di Centre for Contemporary Cultural Studies,
University of Birmingham, meneliti perdebatan feminis tentang kepenontonan
(spectatorship) dan sinema Hollywood di tahun empat puluhan dan lima puluhan.
Ia mengajar Kajian Film, Kajian Perempuan, serta Kajian Lesbian dan Gay pada
orang dewasa maupun yang berpendidikan tinggi.
Jacqui
Roach adalah jurnalis lepas dan bekerja penuh waktu sebagai Pejabat Pers dan
Publisitas di The Women’s Press.
Petal
Felix sedang menjelajahi Afrika dan bekerja sebagai jurnalis lepas.
Anne
Ross Muir adalah sutradara televisi lepas, yang bekerja di pelbagai macam
produksi, termasuk berita, berita hangat terkini, dokumenter, dan doku-drama,
baik di Inggris maupun di Amerika. Ia adalah penulis A Women’s Guide to Jobs in
Film and Television (Pandora, 1987).
Sekolah sebagai Arena Terjadinya Kekerasan Simbolik
Pendidikan bagi Bourdieu, hanyalah sebuah alat untuk
mempertahankan eksistensi kelas dominan. Sekolah pada dasarnya hanya
menjalankan proses reproduksi budaya (cultural
reproduction), sebuah mekanisme sekolah, dalam hubungannya dengan institusi
yang lain, untuk membantu mengabadikan ketidaksetaraan ekonomi antargenerasi.
Kelas dominan mempertahankan posisinya melalui apa yang disebut Illich- hidden curriculum, sekolah memengaruhi
sikap dan kebiasaan siswa dengan menggunakan budaya kelas dominan. Kelas
dominan memaksakan kelas terdominasi untuk bersikap dan mengikuti budaya kelas
dominan melalui sekolah. Sekolah hampir selalu menerapkan budaya kelas dominan
dalam aktivitasnya. Siswa dari latar belakang kelas bawah (kelompok minoritas
di sekolah) mengembangkan cara berbicara dan bertindak yang biasa digunakan
kelas dominan atau yang biasa diistilahkan Bourdieu dengan habitus.
Sekolah-sekolah menurut Bourdieu merupakan tempat untuk
menyosialisasikan habitus kelas dominan sebagai jenis habitus yang alami dan
memosisikan habitus kelas dominan sebagai satu-satunya habitus yang tepat dan
paling baik serta memperlakukan setiap anak (siswa) seolah-olah mereka memiliki
akses yang sama kepada habitus tersebut. Menurut Bourdieu:
… budaya elite begitu dekat dengan
budaya sekolah, sehingga anak-anak dari kelas menengah ke bawah hanya dapat
memperoleh sesuatu yang diberikan kepada anak-anak dari kelas-kelas terdidik
–gaya, selera, kecerdasan- dengan usaha yang sangat keras. Pendeknya, berbagai
sikap dan kemahiran yang kelihatannya natural dalam anggota kelas terdidik dan
yang lazimnya diperkirakan datang dari mereka, tepatnya karena sikap-sikap dan
kemahiran itu adalah budaya kelas tersebut.
Dengan cara ini, habitus kelas dominan ditransformasikan
menjadi bentuk modal budaya yang diterima begitu saja oleh sekolah-sekolah dan
bertindak sebagai alat seleksi yang paling efektif dalam proses-proses
reproduksi sebuah masyarakat yang hierarkis. Mereka yang memiliki habitus yang
sesuai (dengan habitus kelas dominan) akan menerima keberhasilan, sementara
mereka yang tidak mampu menyesuaikan habitusnya, akan mengalami kegagalan. Agar
kelas bawah dapat mengalami keberhasilan, maka ia harus melakukan –apa yang
disebut- proses borjuasi, meniru habitus kelas dominan. Habitus kelas dominan
selalu diposisikan sebagai habitus yang paling baik dan paling sempurna.
Pernyataan di atas semakin menunjukkan bahwa sekolah akan
selalu menciptakan ketidaksetaraan sosial dalam masyarakat. Bagaimanapun juga,
meskipun sistem pendidikan memberikan akses seluas-luasnya bagi semua kelas,
namun sistem ini tetap tidak akan menguntungkan bagi kelas bawah. Hal ini
dikarenakan kelas dominan memiliki modal budaya yang jauh melebihi kapasitas
kelas bawah. Bagi Bourdieu, peserta didik dari kelas dominan lebih diuntungkan
karena memiliki modal budaya. Mereka beruntung berkat asal keluarga yang
memungkinkan mendapatkan kebiasaan budaya (membaca, menulis, diskusi), latihan-latihan
dan sikap yang langsung membuat mereka lebih siap bersaing di sekolah. Mereka
juga mewarisi pengetahuan dan keterampilan, serta selera yang sangat mendukung
pengembangan budaya yang dituntut oleh sistem pendidikan di sekolah. Privilese budaya ini mengemuka karena
familiaritas mereka dengan karya-karya seni dan sastra berkat kunjungan teratur
mereka ke museum, nonton teater dan konser serta kegiatan sejenis lainnya.
Sebaliknya, peserta didik yang berasal dari kelas bawah,
satu-satunya akses ke buaya luar adalah sekolah. Bagi lapisan kelas bawah
sekolah merupakan bentuk akulturasi budaya. Perilaku di dalam budaya
universitas mengandaikan isi dan modalitas proyek profesional yang merupakan
budaya kelas dominan. Pengajaran budaya mengandaikan corpus pengetahuan, keterampilan termasuk dalam cara berbicara atau
bertutur kata yang biasanya dimiliki kaum terdidik. Kebiasaan membaca tumbuh di
perpustakaan rumah, modal budaya berkembang dengan pembiasaan melihat
pertunjukan-pertunjukan pilihan yang berkualitas. Kemampuan percakapan yang
bersifat alusif yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang terdidik berkembang
dalam kalangan sosial tertentu. Warisan budaya seperti itu biasanya diwariskan
secara tidak langsung, penuh diskresi, bahkan dapat dikatakan tanpa upaya
metodis atau tindakan yang kelihatan karena telah menjadi bagian dari habitus
kalangan terdidik. Untuk itu, tidak mengherankan bila bagi kalangan elite,
pendidikan merupakan kelanjutan kelangsungan pewarisan budaya dan bagian dari
strategi kekuasaan, sedangkan untuk kelas miskin sekolah merupakan simbolisasi
akses ke kalangan elite. Sekolah menjadi satu-satunya alat yang mampu
menjanjikan harapan keberhasilan sosial, sedangkan untuk kalangan atas sistem
pendidikan menjamin pelanggengan privilese
mereka.
Selain itu, sekolah juga beroperasi dalam batasan-batasan
habitus tertentu, akan tetapi sekolah juga bereaksi terhadap kondisi eksternal
yang berubah-ubah. Sekolah selalu beradaptasi dengan kondisi di luar dirinya,
seperti menyesuaikan diri dengan kondisi sosial, ekonomi, politik, perkembangan
teknologi yang turut memengaruhi kinerja dan fungsi sekolah. Sekolah menawarkan
berbagai “fungsi” positif yang dinilai berpihak pada kelas bawah, akan tetapi
sebenarnya fungsi-fungsi tersebut tidak jauh bedanya sebagai fungsi
mempertahankan dominasi kelas atas yang dominan. Ketika tenaga ahli banyak
dibutuhkan dalam dunia kerja, maka sekolah pun berlomba-lomba memberikan
keterampilan bagi individu dari kelas bawah, seperti kursus komputer, menjahit,
bahasa asing, perbankan, dan sebagainya. Individu kelas bawah tersebut
sebenarnya digiring untuk mengikuti habitus kelas dominan, mereka diciptakan
untuk melayani kelas dominan guna memenuhi kebutuhan akan kelas pekerja.
Individu kelas bawah diciptakan untuk menjadi kelas bawah pula dalam dunia
kerja.
Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah lebih banyak menyediakan
habitus kelas dominan. Kegiatan les piano atau les-les musik yang ditawarkan
lebih banyak berpihak pada selera, keinginan, kegemaran, atau bahkan bakat yang
dimiliki kelas dominan. Sekolah-sekolah menawarkan kegiatan belajar tambahan,
seperti les mata pelajaran bagi siswanya, tentu saja dalam hal ini adalah siswa
yang memiliki materi yang lebih, sehingga mampu membayar biaya les tambahan.
Kehadiran berbagai lembaga bimbingan belajar yang menawarkan berbagai cara
praktis dalam mengerjakan soal ujian mengindikasikan masih kurangnya materi
yang disampaikan guru di sekolah. Pemisahan materi ini, bahkan merupakan proses
yang disengaja untuk memaksa siswa mengikuti kegiatan pelajaran tambahan ini.
Artinya, secara tidak langsung siswa yang berasal dari kelas bawah tidak akan
mampu mendapatkan materi pelajaran secara penuh, karena sebagaian materi yang
lain akan disampaikan melalui bimbingan belajar. Siswa dari kelas bawah juga tidak
akan mendapatkan trik-trik jitu dalam mengerjakan soal-soal ujian. Sekali lagi,
cara-cara ini hanya akan diperoleh bila siswa mengikuti bimbingan belajar yang
tentu saja berbiaya mahal.
Dengan demikian, sekolah telah menjadi tempat yang paling
strategis untuk berlangsungnya praktik-praktik kekerasan simbolik. Proses ini
terjadi ketika siswa dari kelas bawah secara tidak sadar dipaksa untuk menerima
semua habitus kelas dominan melalui, misalnya, berbagai peraturan sekolah yang
hanya mengakomodasi kelas habitus kelas dominan, memberikan materi, baik
melalui kurikulum formal maupun kurikulum tersembunyi yang sekali lagi tidak
pernah disadari siswa kelas terdominasi: melalui kurikulum, melalui bahasa,
melalui kegiatan ekstrakurikuler, dan mekanisme lainnya. Setiap hari mereka
selalu “dikenalkan” dengan habitus kelas dominan, mereka dikenalkan dengan
budaya, kebiasaan, gaya hidup, selera, cara berpakaian, cara bersikap, cara
berperilaku, cara bertutur kata, cara bertindak “yang baik” menurut kelas
dominan. Akan tetapi, mereka selalu menganggap hal tersebut sebagai sebuah
keharusan, sebuah hal biasa yang sudah diatur “dari sananya”, sehingga mereka
pun akhirnya menerima habitus kelas dominan dengan lapang dada. Padahal di sisi
lain, mereka tidak sadar bila habitus mereka telah diinjak-injak, dicampakan,
dibuang, dianggap sebagai habitus yang tidak berguna di sekolah. Habitus mereka
tidak boleh dibawa di sekolah; di sekolah mereka harus berperilaku layaknya
kelas dominan. Mereka harus mengenakan berbagai atribut yang notabene bukanlah
habitus mereka: berdasi, bersepatu, mereka juga dipaksa berseragam (meskipun
mereka tidak mampu membeli seragam dan sepatu), dan lebih parah lagi, warna dan
jenis sepatu pun sering kali diatur sedemikian rupa-warna sepatu harus hitam;
ketika pelajaran olahraga, siswa harus memakai sepatu khusus olahraga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar