5
Daftar Isi
BAB 1.
Ingin memakai jilbab................................................ 7
BAB 2
Memantapkan diri................................................... 17
BAB 3
Ketika hidayat datang........................................ 29
BAB 4
Godaan dan pujian memuncak.............................. 37
6
7
BAB 1
INGIN MEMAKAI JILBAB
8
Nadia seorang perempuan yang dengan gaya
pakaian tak sopan. Ini terlihat nadia sering menggunakan
kaos dan celana panjang dan sepatu ket kesanggannya
yang hitam dengan motif bunga-bunga. Akan tetapi ketika
nadia melihat Ati yang selalu mengenahkan hijab panjang.
Nadia sering iri dengan penampilannya tersebut. Dengan
gaya busana yang panjang membuat ati makin kelihatan
cantik. Dan ayu.
Ati juga adalah Ketua rohis di SMAnya saat ini. Ati
mempunyai teman dekat yaitu Tuti si mata minus dengan
gaya bahasa mirip dengan orang luar, di karenakan Tuti
tidak pintar mengguncapkan ‘’R.’’ mereka mempunyai
teman laki-laki yang namanya Adi. Dengan wajah
yang tampang mampu menghinoptis semua wanita di
kelasnnya. Akan tetapi Adi mempunyai ke biasaan buruk,
karna Adi baut keteknya.
Awal mula cerita ketika nadia melihat begitu banyak
bentuk jilbab. Yang ia lihat dari salah satu butik dengan
warna dan motif yang berbeda-beda. Dengan iseng nadia
membeli semua jilbab yang ada di butik dan membawanya
pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah nadia masuk
dalam kamarnya, ia tak sabar untuk memakai jilbab yang
ia beli dari butik tadi.
Ketika ia memakai salah satu jilbab itu. nadia,
mematut diri di depan cermin. Terkagum-kagum sendiri
menyaksikan bayangan dirinya di dalam cermin.
Hmm...
cantik juga. Di atas ranjang tidurnya berserakan helai-
9
helai jilbab beraneka corak dan warna dengan motif yang
berbeda-beda.
“Nadia!” suara Ibu dari balik pintu, “makan dulu,
Nak. Sudah jam enam lewat. Kamu mau berangkat ke
sekolah jam berapa?”
“Iya, sebentar.” nadia segera melepas jilbab kuning
yang membungkus kepalanya. Membenahi jilbab-jilbab
yang berserakan di atas ranjang, dan menyimpannya
di sebuah kotak dari kayu yang disimpannya di bawah
ranjang tidurnya. Menyambar tas punggung yang tergolek
di atas meja belajar, sebelum melangkah keluar kamar.
Ayah dan Ibu sudah menunggu sejak tadi di meja
makan. Mereka sudah mulai sarapan sejak beberapa
menit lalu. nadia mengambil gelas berisi susu. Usai
meminumnya, ia bergegas mencium telapak tangan ayah
dan ibunya.
“Kamu tidak sarapan dulu, nad?” “Masih kenyang,
Bu.” “Bik Ina! Bekal makan siang buat nadia mana?”
“Gak usah deh, Bu. Biar nanti nadia makan di kantin aja.”
Bik ina datang bersama bekal makan siang buat
nadia di tangannya. Ibu mengambil bekal itu dan
menenggelamkannya ke dalam tas punggung nadia.
“Makan di kantin itu tidak terjamin kebersihannya dan
belum tentu bergizi. Lebih baik bawa dari rumah. Kamu
kan tidak biasa makan di luar. Nanti lambung kamu sakit.”
nadia tidak membantah.
Yah... itung-itung ngirit uang jajan
,
batinnya.
10
Ayah geleng-geleng kepala melihat sikap Ibu yang
memperlakukan nadia tak ubahnya anak yang masih
duduk di bangku taman kanak-kanak. Mata nadia tak
lepas memandangi Tuti yang baru dua pekan berhijab,
menutupi rambutnya yang indah dengan jilbab. Banyak
teman-teman di sekolah yang menyayangkan keputusan
Tuti itu. Tapi nadia justru merasa iri dengan Tuti yang
kalau bicara mirip orang luar negeri karena tidak bisa
mengucapkan huruf R dengan sempurna. Di mata nadia,
gadis berkaca mata minus itu terlihat jauh lebih cantik dan
anggun setelah berjilbab.
“lo ngeliatin siapa sih, nid?” tegur Adi, teman
sekelasnya yang berwajah keren serupa model sampul
majalah, tapi bau ketek itu. Tumben-tumbenan hari ini
Adi tidak menyebarkan bau cuka dari ketiaknya yang
selalu basah. Mungkin karena masih pagi? Atau dia naik
taksi, jadi tidak berkeringat?
“Tuti....” “Kenapa sama Tuti.” “Sejak berjilbab, dia
keliatan makin cantik aja....” “Jadi, lo....”“Iya,” potong
nadia, “aku iri sama Tuti.” “Iri?” nadia mengangguk.
“Sama Ati juga.” “Ati yang ketua Rohis sekolah kita
itu?” “He’eh.” “Sebabnya?” “Aku... aku ingin pakai jilbab
seperti mereka.” Tawa Adi meledak mendengar alasan
nadia yang iri pada Tuti dan Ati.“Kenapa ketawa?”
“Udah, ah. Aku mau ke kantin. Mau ikut, gak?”
ajak Adi.
11
Nadia menggelengkan kepala.“lo gak punya duit?”
“Bukan. Aku udah dibawain bekal makan siang
sama Ibu.”
“Jadi lo masih suka dibawain bekal sama ibu lo?”
“Iya. Yah, itung-itung ngirit uang jajan.”
“Hahahaha....”
“Kamu kok seneng banget ngetawain aku?”
“Habis... lo kayak anak TK, sih!”
“Ayah aku juga selalu ngomong begitu, tapi ibuku
ngotot. Makan di kantin gak terjamin kebersihannya.
Takut lambungku jadi sakit.” “Dasar anak mami!” Adi
masih tertawa saat dia meninggalkan Nadia ke kantin.
Sepulang sekolah, Nadia tidak langsung pulang ke rumah.
Dia mampir dulu ke sebuah butik muslimah yang tak
jauh dari lokasi sekolahnya. Beberapa hari yang lalu dia
melihat jilbab warna pink motif bunga-bunga dipajang di
display
butik. Tapi sekarang tidak lagi.
Jangan-jangan sudah
ada yang beli....
Nadia masuk ke dalam butik. Barangkali
masih ada yang lainnya.
Seorang pengawai butik terlihat cantik dengan jilbab
biru pastel, senada dengan gamis yang dikenakannya.
Wanita yang sepertinya lima tahun lebih tua dari Nadia
itu menghampiri Nadia dengan segurat senyum menghias
raut keibuannya.
“Mau cari apa, Dik?”
12
“Saya mau cari jilbab warna pink motif bunga-
bunga. Beberapa hari lalu saya lihat jilbab itu dipajang di
display
.”
“Wah, sayang sekali... belum lama jilbab itu dibeli
oleh seseorang.”
“Yah....”
“Mm, tapi kami punya yang lain.”
“Warna pink?”
“Warna pink.”
“Motif bunga-bunga?”
“Motif bunga-bunga. Hanya saja coraknya agak
berbeda, tapi bahannya sama.”
Nadia mengangguk-angguk. “Saya lihat yang itu,
Mbak.”
Pegawai butik itu lalu masuk ke dalam. Tak berapa
lama dia kembali dengan sebuah jilbab di tangannya.,
jilbab pink dengan motif bunga-bunga yang coraknya agak
berbeda dengan yang dilihat nadia di
display
beberapa hari
lalu. Pegawai butik itu menyerahkan jilbab di tangannya
kepada Nadia.
Wajah Nadia menjadi berseri-seri.
“Memangnya jilbab itu untuk siapa?”
“Buat saya.”
Pegawai butik itu mengerutkan kening.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar