Senin, 14 September 2015



MEMASUKI DUNIA KAMPUS
Ø  MENJEMPUT CITA-CITA
Pada tahun 2012 saya pun lulus ujian nasional SMA di kota papua di sinilah saya menjemput mimpi-mimpi itu untuk masuk di penguruan tinggi negeri, saya memutuskan untuk kembali ke sulawesi tenggara di kota kendari. Hiru pikul kehidupan ibukota tak menyurutkan semangat saya untuk menjemput cita-cita. Dunia baru pun aku sambut dengan suka cita yang membanggakan buat saya karna tak semua orang bisa menikmati perguruan tinggi. Banyaknya orang yang tak mampu menikmatinya karna tereliminasi dengan kondisi ekonomi yang kurang memadai inilah system kapitalis orang kaya akan bertambah kaya sedangkan orang miskin bertambah miskin. Padahan kekayaan alam sangat melimpat tapi hanya sebagian orang saja yang bisa menikmatinya, yaitu orang kalangan atas sedangkan orang dari kalangan bawah tidak bisa menikmati kekayaan alam negeri. Penguasa saat ini lebih baik memberikan kepada orang asing dari pada kepada rakyatnya sendiri.kalau kita menelaan ayat-ayat allah kekayaan tersebut harus di kembalikan sebagai mana dalam hadits yang berbunyi:

‘’manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang gembalaan, dan api” (hr. abu dawud)
Tapi ternyata semua ini di kelola oleh rakyat tapi malah penguasa negeri ini di perjual belikan dan di serahkan kepada asing. Sungguh aneh negeri ini. itu tidak terjadi sama saya walaupun dengan keterbatasan ekonomi saya tetap menikmati bangku perguruaan negeri. Setiba saya di kota kendari saya mendaftar di salah satu perguruan tinggi ternama di Sulawesi tenggara yaitu universitas halu oleo. Bersama dengan sepupu saya kami memasuki kampus untuk ikut ujian pada saat itu kami beda ruangan saya di ruangan A dia berada di ruangan D. saat tiba pengumuman namaku tidak saya lihat sedangkan sepupu saya tadi berhasil masuk di salah satu fakultas MIPA. Dengan rasa kecewa saya pulang ke kos saya untuk menunggu tes di universitas lain tapi tak di sangka pada saat jam 14.00 siang hp saya berbunyi saya tenggah duduk sambil menikmati sebatang rokok di kamar. Saya pun mengangkat bunyi telfon tersebut ternyata tetangga rumah saya di tomia dia mengabarkan bahwa saya di terima di fakultas fisip pada. Saya tak percaya dengan kata-kata dia.
‘’aaahhh’’ tidak mungkin saya lulus saya sudah periksa di Koran nama saya tidak keluar dia pun memanggi saya untuk ke kosnya yang ada di dalam kampus, saya pun ke sana untuk memeriksa apa betul namaku ada dikoran atau tidak ada. Dengan sedikit ragu-ragu saya jalan ke tempat kosnya setelah tiba di kosnya dia memperlihatkan namaku ternyata betul namaku lulus di fakultus fisip jurusan sosiologi.
Siang itu saya melangkakan kaki menuju kos dan memgambil berkas-berkas untuk pedaftaran ulang saat itu juga, setelah melengkapi semua berkas aku bergegas ke kampus pada pukul 14.46 saya ketempat pedaftaran ulang untuk mengambil kartu. Akhirnya saya tercatat juga sebagai mahasiswa dengan rasa bangga saya menjemput dunia baru ini dengan tabah dan sabar menjalininya. Setelah beberapa bulan berjalan perkuliahan saya  ketemu dengan senior saya untuk menawarkan beasiswa bidik misi. Beasiswa ini adalah program kerja menteri pendidikan yang awal di cetuskan pada tahun 2010 . beasiswa ini untuk kalagan yang tidak mampu tapi berpretasi. Awalnya bidik misi ini saya talok karna, saya mendengar dari senior saya bidik misi ini diasramakan di dalam kampus dan tidak bisa bebas karna semuanya di jaga. Artinya di sana tidak bisa meroko, keluar malam dan IPK kita harus diatas 2,75 tidak bisa kurang, ketika IPK kita di bawah standar maka mahasiswa tersebut akan di berhentikan beasiswanya.
Banyak teman-temanku yang satu kelas mendapatkan beasiswa ini mereka ternyata sudah di uruskan oleh gurunya di sekolah masing-masing. Tapi saya juga tidak tau informasi tersebut sebelumnya itu pun pada saat berada di kampus saya mendengar program beasiswa bidik misi ini. Saya menjalani hari-hari berada di kampus seperti biasa dengan teman-teman baru saya di kampus. Pagi itu adalah awal saya masuk kuliah pagi sebelum pukul jam 08.00 tiba lah di kampus inilah awal saya turun ke jalan untuk aksi atau demo dari ajakan senior saya. Saat kami masuk dalam kelas, tiba-tiba senior kami masuk dalam ruangan yang atas namakan HMJ mereka masuk berombongan salah satu dari mereka mulai menyampaikan tentang beberapa gerakan mahasiswa dan membahas organisasi kemahasiswaan kampus untuk di perkenalkan. Maka mereka mengatakan bahwa kita mahasiswa harus lebih aktif di dunia pergerakan mahasiswa dan ke organisasian. Peran mahasiswa sangat penting di kanja perpolitikan saat ini karna mahasiswa memgawal dan menyusul perubahan itu. dengan kondisi saat ini rezim yang tak bisa membangun kesajahteraan rakyat dan banyak kebijakan-kebijakan yang tidak pro dengan rakayat. Ian (senior) menyatakan mahasiswa juga juga harus tidak berpajukan dengan kuliah tho, harusnya mahasiswa juga harus lebih aktif dalam pergerakan. Kuliah yang di berikan dosen itu tidak semuanya tersampaikana hanya sekitar 40% saja yang lainnya itu di cari sendiri.
Saat asyik-asyik mendengarkan penyampainya dari senior saya tadi yang bernama ian, tiba-tiba muncul orang yang sedikit keras bicaranya dan nada yang begitu tinggi, kami pun kaget dan terdiam ternyata mereka mengajak kami untuk turun demo di kantor DPRD, dengan rasa takut kami terus diam ian tadi menggankat bicara, inilah saatnya kalian membuktikan bahwa mahasiswa harus kritis dan mau memperjuangkan hak-hak rakyat. Akhirnya dengan hati terpaksa kami pun ikut dalam aksi ini, kami kemudian di bawah keluar ruangan dan masuk ke dalam mobil untuk ikut aksi ini. Tapi sayang gerakan yang kami bangun ini hanya gerakan hura-hura saja atau gerakan keterpaksaan karna tidak datang dari lubung hati kami yang seharusnya gerakan yang kita bangun harus ada dalam lubung hati yang dalam dan terbangun dalam gerakan nasi bungkus. Garekan nasi bungkus artinya kita turun aksi menyampaikan aspirasi dari masyarakat gara-gara sebungkus nasi atau seikat uang dari orang lain.

Ø  GERAKAN MAHASISWA TAK HANYA SEKEDAR GERAKAN
Banyaknya pergerakan mahasiswa ini yang terus menerus melakukan aksi-aksi perubahan akan tetapi aksi-aksi yang merekan lakukan itu hanya sekedar euforia saja. Kita lihat saja banyak media-media massa, online dan lain-lainnya yang menginformasikan aksi-aksi yang di lakukan oleh mahasiswa. Di dalam media massa itu seringkali mahasiswa melakukan aktivitas perkelahian dengan polisi, membakar ban sehingga kendaraan tak bisa lewat. Kadang juga mahasiswa ini melakukan pengurusakan jalan dan kantor inilah watak buruk mahasiswa. Ini juga sering terjadi pada mahasiswa yang ada di dalam kampus saya, ketika melakukan aksi sering kali terjadi tawuran antar mahasiswa dan polisi kadang mereka memblokir jalan raya sehingga mobil pun tak bisa lewat kedalam kampus.
Keberanian harus di atas pengetahuan” ??
Begitulah kutipan dari pernyataan salah seorang aktivis mahasiswa. sikap berani adalah yang terpenting dimiliki seorang mahasiswa, atau istilah lainnya disebut tukang gertak, dan soal pengetahuan, itu masalah nanti. Refleksi dari kutipan di atas, jika ditarik hubungkan dengan sejumlah permasalahan pergerakan mahasiswa di Indonesia saat ini, seolah merajut benang merah akar penyebab permasahan tersebut. Mari perlahan, kita coba rajut dengan keterbukaan berfikir dan keikhlasan belajar.
Keberanian atau Nekat ?
Ada sejumlah definisi tentang ‘keberanian’. Julius A Cartage menyatakan bahwa “Keberanian adalah serigala dan pengecut adalah mangsa”. Kemudian Dawson Peter Amstrong berujar “Berani bukanlah siap menghunus pedang, tetapi siap memasukkan pedang ke sarungnya”. Lalu, Aristotele menyatakan bahwa, “The conquering of fear is the beginning of wisdom”.
Keberanian, haruslah sebagai sikap perjuangan yang jelas dan dapat di pertanggungjawabkan dengan segala nilai kebenaran. Keberanian bukan berarti asal maju tanpa menghitung risiko, tapi keberanian adalah semua tindakan strategis yang telah terhitung secara akurat sebelum melangkah ke tindakan yang lebih jauh.
Keberanian tidak sama dengan nekat atau asal maju, yang tanpa memahami dan mengetahui permasalahan secara utuh, tapi keberanian ialah sebuah sikap atau karakter yang di dukung oleh pengetahuan yang mumpuni. Bila keberanian bermakna nekat atau asal berani, maka sesungguhnya itu adalah kebutaan dalam memaknai keberanian secara benar dan tepat. Keberanian harus memiliki landasan, manfaat, tujuan, dan perencanaan yang matang. Kemudian, sejatinya keberanian diikuti dengan keinginan untuk terus belajar dan mencari kebenaran, bukan pembenaran.
Kembali pada studi kasus mahasiswa di atas, apa yang dinyatakan dalam kutipannya adalah lebih kepada nekat, bukan keberanian. Karena disana ada pemisahan antara keberanian dan pengetahuan.
Jika kita coba menelaah pergerakan mahasiswa hari ini, maka belum banyak kita temukan pergerakan yang berbasis keberanian sebagaimana pemahaman sesungguhnya di atas. Kata ‘pergerakan’ masih dimaknai oleh sebagian besar mahasiswa, dekat dengan aksi demonstrasi atau aksi-aksi sensasional yang bersifat perlawanan vertikal. Hal ini sepertinya masih dipengaruhi oleh euforia aksi senior mereka saat reformasi 1998.Banyak yang berpendapat bahwa pergerakan dengan pemahaman dan pendekatan lama tersebut sekarang sudah tidak lagi relevan. Apalagi, modal yang digunakan adalah nekat, maka itu hampir sama dengan bunuh diri. Lalu bagaimana pemahaman dan pendekatan seharusnya yang relevan dengan kondisi kekinian saat ini ?.
Pengetahuan : Modal Dasar Gordon (1994 : 50) mendefinisikan pengetahuan (knowledge) sebagai dasar kebenaran atau fakta yang harus di ketahui dan diterapkan dalam pekerjaan. Selanjutnya menurut Nadler (1986 : .62), pengetahuan adalah proses belajar manusia mengenai kebenaran atau jalan yang benar, tujuannya untuk mengetahui apa yang harus diketahui untuk dilakukan. Merujuk kepada beberapa definisi di atas, terlihat bahwa pengetahuan disini menjadi sebuah modal dasar dalam setiap tindakan. Begitu juga halnya dengan sebuah keberanian. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa keberanian sesungguhnya harus berlandaskan modal pengetahuan yang kontekstual dengan tindakan yang akan dilakukan.
Saat ini tengah berkembang di berbagai belahan dunia, sejumlah gerakan berbasis pengetahuan. Melingkupi berbagai sistem, mulai dari ekonomi, inovasi teknologi, pembangunan, dan sejumlah sistem lainnya, semua berbasis pengetahuan. Dari basis inilah tumbuh keberanian dan kepercayaan diri dari sebuah gerakan. Begitu juga dengan pergerakan mahasiswa, modal pengetahuan seharusnya menjadi basis atau modal utama. Pergerakan seharusnya dimaknai secara luas, mulai dari aksi sosial, kewirausahaan, pendidikan, seni budaya, dan berbagai jenis aksi lainnya yang bertujuan positif dan dilakukan dengan metode-metode yang juga positif, inilah seharusnya integritas pergerakan mahasiswa dengan ciri intelektual yang tidak hanya menjadi menara gading. Namun juga mengakar menyentuh rakyat dengan hasil olahan mereka terhadap kompleksnya ilmu pengetahuan. Sebagian kelompok mahasiswa saat ini telah melakukan dan berupaya memaksimalkan pemahaman dan pendekatan berbasis pengetahuan tersebut. Hanya saja mereka masih sebagian kecil dan sebagian besarnya masih bermodal jumlah massa dan nekat.
“Akuilah dengan hati bersih bahwa kalian bisa belajar dari orang barat. Tapi jangan sekali-kali kalian meniru mereka. Jadilah murid-murid dari timur yang cerdas”
Begitulah himbauan bagi para manusia Indonesia dari seorang Tan Malaka, pemikir terbaik bangsa yang pertama kali menulis konsep tentang Republik Indonesia dan berhasil menghidupkan akal sehat orang timur melalui karya fenomenalnya : Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog). Himbauan di atas sangat tepat bagi kelompok mahasiswa yang bersikap konservatif. Konservatif adalah sebuah sikap resisten atau ketertutupan terhadap hal-hal baru. Sikap ini sesungguhnya tidak sepenuhnya salah, karena salah satu tujuannya adalah menjaga identitas atau karakter asli dari keyakinan yang positif. Namun sikap ini menjadi bodoh ketika dilakukan secara berlebihan. Sehingga memunculkan benteng terhadap gagasan-gagasan baru yang sesungguhnya benar.
Hal ini akhirnya membuat mereka terkungkung dalam kesempitan cara pandang, sementara di luar benteng mereka ilmu pengetahuan terus berkembang. Doktrin kebenaran bagi mereka seolah kaku, statis, dan tidak dinamis. Sifat kritis yang lahir, tumbuh secara tidak seimbang. Hanya mengkritik keluar, namun jarang menggugat ke dalam  sistem apa yang telah diyakini selama ini. Alhasil kedangkalan pemaknaan terhadap urgensi pengetahuan pun membuat mereka bergerak dengan mengabaikan modal dasar ; pengetahuan. Penyebab munculnya sikat konservatif ini tentu beralasan. Munculnya sejumlah gerakan yang berupaya menyebarkan paham pemikiran dan ideologi mereka di Indonesia adalah salah satu alasannya. Mahasiswa sebagai generasi masa depan tentu disini menjadi sasaran strategis. Hal ini kemudian dilakukan melalu berbagai metode, sehingga akhirnya berhasil mencuci otak para mahasiswa dan membunuh daya kritis mereka melalui indoktrinasi.Indoktrinasi yang berlangsung secara terus menerus membuat mereka semakin kerdil. Mereka terkurung dalam kesempitan doktrin, merasa menjadi yang paling benar dan yang lain adalah salah. Yang salah dianggap sebagai musuh dan tidak bisa dipercaya. Kelebihan pengetahuan dan keunggulan lainnya yang dimiliki oleh pihak lain dianggap sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi mereka. Sehingganya, jalan apapun kemudian dihalalkan untuk memusnahkan ancaman-ancaman yang membahayakan tersebut, demi memuluskan jalan meraih kekuasaan politik. Mereka menjadi buta, bodoh, pecundang, dan tanpa integritas. Inilah bahaya laten dari paham konservatif yang berkembang dan menjadi hambatan dari berkembangnya gerakan mahasiswa yang berbasis pengetahuan.
 Gerakan mahasiswa yang ideal untuk kondisi zaman ini adalah, sebuah gerakan yang berani karena berbasis ideology yang benar. Bukan sebuah gerakan nekat dan konservatif yang kuno, klasik, dan tidak berkembang serta tidak relevan dengan kebutuhan zaman.Sikap konservatif yang merebak ini memang cukup dilematis. Di satu sisi hal ini sebagai pertahanan terhadap nilai-nilai yang dianggap benar, di sisi lain hambatan untuk maju dan berkembang. Kompleks memang, karena terkait dengan relatifitas asumsi kebenaran, konspirasi perang pemikiran, dan benturan serta distorsi budaya yang terjadi antara keyakinan dan kepercayaan. Gerakan mahasiswa ideologis bagaikan tulang punggung yang mampu memikul tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.
 Allah SWT pernah memperingatkan kita dalam suatu ayat di QS Al-Baqarah:30, yang menyiratkan bahwa manusia ialah makhluk Allah yang diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi.
 Amanah itu tidak-lah semudah membalikkan telapak tangan saja, melainkan butuh banyak perjuangan (jihad) yang dilandaskan akan niat ikhlas karena Illahi saja. Kita ambil contoh dari riwayat sahabat nabi yang membantu Rasulullah SAW dalam membina dakwah di muka bumi sehingga saat ini kita alhamdulillah merasakan hidayah Islam tersebut yang mahal harganya. Perjuangan mereka begitu luar biasa, mengorbankan jiwa, raga, ilmu, tenaga, hingga harta yang mereka miliki hanya untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini, dan mengajak manusia ke amal ma’ruf nahi munkar. Mendengar istilah ‘ideal’ tentunya yang paling menonjol ialah situasi atau keadaan dimana sebuah instrument ataupun sistem berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan atau yang diinginkan.
Wajah masa depan dunia berada di tangan pemuda-pemudi Muslim. Mereka dituntut menyelesaikan tiga persoalan global yang kompleks. Tuntutan ini lahir bukan semata karena banyaknya jumlah pemuda-pemudi Muslim di dunia, tapi juga karena adanya tanggung jawab keilahian untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil'alamin.

‘’ ingat? Gerakan mahasiswa yang ideal, tidak hanya sekedar mendapatkan sensasi karena ingin di kenang dalam sejarah ketika menghasilkan berbagai pergolakan dan berhasil menumbangkan rezim, namun gagal menemukan solusi yang tepat untuk mengeluarkan negeri ini dari lembah kenestapaan dan penderitaan.’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar