MEMASUKI
DUNIA KAMPUS
Ø MENJEMPUT
CITA-CITA
Pada
tahun 2012 saya pun lulus ujian nasional SMA di kota papua di sinilah saya
menjemput mimpi-mimpi itu untuk masuk di penguruan tinggi negeri, saya
memutuskan untuk kembali ke sulawesi tenggara di kota kendari. Hiru pikul
kehidupan ibukota tak menyurutkan semangat saya untuk menjemput cita-cita. Dunia
baru pun aku sambut dengan suka cita yang membanggakan buat saya karna tak
semua orang bisa menikmati perguruan tinggi. Banyaknya orang yang tak mampu
menikmatinya karna tereliminasi dengan kondisi ekonomi yang kurang memadai
inilah system kapitalis orang kaya akan bertambah kaya sedangkan orang miskin
bertambah miskin. Padahan kekayaan alam sangat melimpat tapi hanya sebagian
orang saja yang bisa menikmatinya, yaitu orang kalangan atas sedangkan orang
dari kalangan bawah tidak bisa menikmati kekayaan alam negeri. Penguasa saat
ini lebih baik memberikan kepada orang asing dari pada kepada rakyatnya
sendiri.kalau kita menelaan ayat-ayat allah kekayaan tersebut harus di
kembalikan sebagai mana dalam hadits yang berbunyi:
‘’manusia
berserikat dalam tiga hal: air, padang gembalaan, dan api” (hr. abu dawud)
Tapi
ternyata semua ini di kelola oleh rakyat tapi malah penguasa negeri ini di
perjual belikan dan di serahkan kepada asing. Sungguh aneh negeri ini. itu tidak
terjadi sama saya walaupun dengan keterbatasan ekonomi saya tetap menikmati
bangku perguruaan negeri. Setiba saya di kota kendari saya mendaftar di salah satu
perguruan tinggi ternama di Sulawesi tenggara yaitu universitas halu oleo.
Bersama dengan sepupu saya kami memasuki kampus untuk ikut ujian pada saat itu
kami beda ruangan saya di ruangan A dia berada di ruangan D. saat tiba
pengumuman namaku tidak saya lihat sedangkan sepupu saya tadi berhasil masuk di
salah satu fakultas MIPA. Dengan rasa kecewa saya pulang ke kos saya untuk
menunggu tes di universitas lain tapi tak di sangka pada saat jam 14.00 siang
hp saya berbunyi saya tenggah duduk sambil menikmati sebatang rokok di kamar.
Saya pun mengangkat bunyi telfon tersebut ternyata tetangga rumah saya di tomia
dia mengabarkan bahwa saya di terima di fakultas fisip pada. Saya tak percaya
dengan kata-kata dia.
‘’aaahhh’’
tidak mungkin saya lulus saya sudah periksa di Koran nama saya tidak keluar dia
pun memanggi saya untuk ke kosnya yang ada di dalam kampus, saya pun ke sana
untuk memeriksa apa betul namaku ada dikoran atau tidak ada. Dengan sedikit
ragu-ragu saya jalan ke tempat kosnya setelah tiba di kosnya dia memperlihatkan
namaku ternyata betul namaku lulus di fakultus fisip jurusan sosiologi.
Siang
itu saya melangkakan kaki menuju kos dan memgambil berkas-berkas untuk
pedaftaran ulang saat itu juga, setelah melengkapi semua berkas aku bergegas ke
kampus pada pukul 14.46 saya ketempat pedaftaran ulang untuk mengambil kartu.
Akhirnya saya tercatat juga sebagai mahasiswa dengan rasa bangga saya menjemput
dunia baru ini dengan tabah dan sabar menjalininya. Setelah beberapa bulan
berjalan perkuliahan saya ketemu dengan
senior saya untuk menawarkan beasiswa bidik misi. Beasiswa ini adalah program
kerja menteri pendidikan yang awal di cetuskan pada tahun 2010 . beasiswa ini
untuk kalagan yang tidak mampu tapi berpretasi. Awalnya bidik misi ini saya
talok karna, saya mendengar dari senior saya bidik misi ini diasramakan di
dalam kampus dan tidak bisa bebas karna semuanya di jaga. Artinya di sana tidak
bisa meroko, keluar malam dan IPK kita harus diatas 2,75 tidak bisa kurang,
ketika IPK kita di bawah standar maka mahasiswa tersebut akan di berhentikan
beasiswanya.
Banyak
teman-temanku yang satu kelas mendapatkan beasiswa ini mereka ternyata sudah di
uruskan oleh gurunya di sekolah masing-masing. Tapi saya juga tidak tau
informasi tersebut sebelumnya itu pun pada saat berada di kampus saya mendengar
program beasiswa bidik misi ini. Saya menjalani hari-hari berada di kampus
seperti biasa dengan teman-teman baru saya di kampus. Pagi itu adalah awal saya
masuk kuliah pagi sebelum pukul jam 08.00 tiba lah di kampus inilah awal saya
turun ke jalan untuk aksi atau demo dari ajakan senior saya. Saat kami masuk
dalam kelas, tiba-tiba senior kami masuk dalam ruangan yang atas namakan HMJ
mereka masuk berombongan salah satu dari mereka mulai menyampaikan tentang
beberapa gerakan mahasiswa dan membahas organisasi kemahasiswaan kampus untuk
di perkenalkan. Maka mereka mengatakan bahwa kita mahasiswa harus lebih aktif
di dunia pergerakan mahasiswa dan ke organisasian. Peran mahasiswa sangat
penting di kanja perpolitikan saat ini karna mahasiswa memgawal dan menyusul
perubahan itu. dengan kondisi saat ini rezim yang tak bisa membangun
kesajahteraan rakyat dan banyak kebijakan-kebijakan yang tidak pro dengan
rakayat. Ian (senior) menyatakan mahasiswa juga juga harus tidak berpajukan
dengan kuliah tho, harusnya mahasiswa juga harus lebih aktif dalam pergerakan.
Kuliah yang di berikan dosen itu tidak semuanya tersampaikana hanya sekitar 40%
saja yang lainnya itu di cari sendiri.
Saat
asyik-asyik mendengarkan penyampainya dari senior saya tadi yang bernama ian,
tiba-tiba muncul orang yang sedikit keras bicaranya dan nada yang begitu
tinggi, kami pun kaget dan terdiam ternyata mereka mengajak kami untuk turun
demo di kantor DPRD, dengan rasa takut kami terus diam ian tadi menggankat
bicara, inilah saatnya kalian membuktikan bahwa mahasiswa harus kritis dan mau
memperjuangkan hak-hak rakyat. Akhirnya dengan hati terpaksa kami pun ikut
dalam aksi ini, kami kemudian di bawah keluar ruangan dan masuk ke dalam mobil
untuk ikut aksi ini. Tapi sayang gerakan yang kami bangun ini hanya gerakan
hura-hura saja atau gerakan keterpaksaan karna tidak datang dari lubung hati
kami yang seharusnya gerakan yang kita bangun harus ada dalam lubung hati yang
dalam dan terbangun dalam gerakan nasi bungkus. Garekan nasi bungkus artinya
kita turun aksi menyampaikan aspirasi dari masyarakat gara-gara sebungkus nasi
atau seikat uang dari orang lain.
Ø GERAKAN
MAHASISWA TAK HANYA SEKEDAR GERAKAN
Banyaknya
pergerakan mahasiswa ini yang terus menerus melakukan aksi-aksi perubahan akan
tetapi aksi-aksi yang merekan lakukan itu hanya sekedar euforia saja. Kita
lihat saja banyak media-media massa, online dan lain-lainnya yang
menginformasikan aksi-aksi yang di lakukan oleh mahasiswa. Di dalam media massa
itu seringkali mahasiswa melakukan aktivitas perkelahian dengan polisi,
membakar ban sehingga kendaraan tak bisa lewat. Kadang juga mahasiswa ini
melakukan pengurusakan jalan dan kantor inilah watak buruk mahasiswa. Ini juga
sering terjadi pada mahasiswa yang ada di dalam kampus saya, ketika melakukan
aksi sering kali terjadi tawuran antar mahasiswa dan polisi kadang mereka
memblokir jalan raya sehingga mobil pun tak bisa lewat kedalam kampus.
Keberanian
harus di atas pengetahuan” ??
Begitulah
kutipan dari pernyataan salah seorang aktivis mahasiswa. sikap berani adalah
yang terpenting dimiliki seorang mahasiswa, atau istilah lainnya disebut tukang
gertak, dan soal pengetahuan, itu masalah nanti. Refleksi dari kutipan di atas,
jika ditarik hubungkan dengan sejumlah permasalahan pergerakan mahasiswa di
Indonesia saat ini, seolah merajut benang merah akar penyebab permasahan
tersebut. Mari perlahan, kita coba rajut dengan keterbukaan berfikir dan
keikhlasan belajar.
Keberanian
atau Nekat ?
Ada
sejumlah definisi tentang ‘keberanian’. Julius A Cartage menyatakan bahwa
“Keberanian adalah serigala dan pengecut adalah mangsa”. Kemudian Dawson Peter
Amstrong berujar “Berani bukanlah siap menghunus pedang, tetapi siap memasukkan
pedang ke sarungnya”. Lalu, Aristotele menyatakan bahwa, “The conquering of
fear is the beginning of wisdom”.
Keberanian,
haruslah sebagai sikap perjuangan yang jelas dan dapat di pertanggungjawabkan
dengan segala nilai kebenaran. Keberanian bukan berarti asal maju tanpa
menghitung risiko, tapi keberanian adalah semua tindakan strategis yang telah
terhitung secara akurat sebelum melangkah ke tindakan yang lebih jauh.
Keberanian
tidak sama dengan nekat atau asal maju, yang tanpa memahami dan mengetahui permasalahan
secara utuh, tapi keberanian ialah sebuah sikap atau karakter yang di dukung
oleh pengetahuan yang mumpuni. Bila keberanian bermakna nekat atau asal berani,
maka sesungguhnya itu adalah kebutaan dalam memaknai keberanian secara benar
dan tepat. Keberanian harus memiliki landasan, manfaat, tujuan, dan perencanaan
yang matang. Kemudian, sejatinya keberanian diikuti dengan keinginan untuk
terus belajar dan mencari kebenaran, bukan pembenaran.
Kembali
pada studi kasus mahasiswa di atas, apa yang dinyatakan dalam kutipannya adalah
lebih kepada nekat, bukan keberanian. Karena disana ada pemisahan antara
keberanian dan pengetahuan.
Jika
kita coba menelaah pergerakan mahasiswa hari ini, maka belum banyak kita
temukan pergerakan yang berbasis keberanian sebagaimana pemahaman sesungguhnya
di atas. Kata ‘pergerakan’ masih dimaknai oleh sebagian besar mahasiswa, dekat
dengan aksi demonstrasi atau aksi-aksi sensasional yang bersifat perlawanan
vertikal. Hal ini sepertinya masih dipengaruhi oleh euforia aksi senior mereka
saat reformasi 1998.Banyak yang berpendapat bahwa pergerakan dengan pemahaman
dan pendekatan lama tersebut sekarang sudah tidak lagi relevan. Apalagi, modal
yang digunakan adalah nekat, maka itu hampir sama dengan bunuh diri. Lalu
bagaimana pemahaman dan pendekatan seharusnya yang relevan dengan kondisi
kekinian saat ini ?.
Pengetahuan
: Modal Dasar Gordon (1994 : 50) mendefinisikan pengetahuan (knowledge) sebagai
dasar kebenaran atau fakta yang harus di ketahui dan diterapkan dalam
pekerjaan. Selanjutnya menurut Nadler (1986 : .62), pengetahuan adalah proses
belajar manusia mengenai kebenaran atau jalan yang benar, tujuannya untuk
mengetahui apa yang harus diketahui untuk dilakukan. Merujuk kepada beberapa
definisi di atas, terlihat bahwa pengetahuan disini menjadi sebuah modal dasar
dalam setiap tindakan. Begitu juga halnya dengan sebuah keberanian. Seperti
yang dijelaskan sebelumnya, bahwa keberanian sesungguhnya harus berlandaskan
modal pengetahuan yang kontekstual dengan tindakan yang akan dilakukan.
Saat
ini tengah berkembang di berbagai belahan dunia, sejumlah gerakan berbasis
pengetahuan. Melingkupi berbagai sistem, mulai dari ekonomi, inovasi teknologi,
pembangunan, dan sejumlah sistem lainnya, semua berbasis pengetahuan. Dari
basis inilah tumbuh keberanian dan kepercayaan diri dari sebuah gerakan. Begitu
juga dengan pergerakan mahasiswa, modal pengetahuan seharusnya menjadi basis
atau modal utama. Pergerakan seharusnya dimaknai secara luas, mulai dari aksi
sosial, kewirausahaan, pendidikan, seni budaya, dan berbagai jenis aksi lainnya
yang bertujuan positif dan dilakukan dengan metode-metode yang juga positif,
inilah seharusnya integritas pergerakan mahasiswa dengan ciri intelektual yang
tidak hanya menjadi menara gading. Namun juga mengakar menyentuh rakyat dengan
hasil olahan mereka terhadap kompleksnya ilmu pengetahuan. Sebagian kelompok
mahasiswa saat ini telah melakukan dan berupaya memaksimalkan pemahaman dan
pendekatan berbasis pengetahuan tersebut. Hanya saja mereka masih sebagian
kecil dan sebagian besarnya masih bermodal jumlah massa dan nekat.
“Akuilah
dengan hati bersih bahwa kalian bisa belajar dari orang barat. Tapi jangan
sekali-kali kalian meniru mereka. Jadilah murid-murid dari timur yang cerdas”
Begitulah
himbauan bagi para manusia Indonesia dari seorang Tan Malaka, pemikir terbaik
bangsa yang pertama kali menulis konsep tentang Republik Indonesia dan berhasil
menghidupkan akal sehat orang timur melalui karya fenomenalnya : Materialisme,
Dialektika, dan Logika (Madilog). Himbauan di atas sangat tepat bagi kelompok
mahasiswa yang bersikap konservatif. Konservatif adalah sebuah sikap resisten
atau ketertutupan terhadap hal-hal baru. Sikap ini sesungguhnya tidak
sepenuhnya salah, karena salah satu tujuannya adalah menjaga identitas atau
karakter asli dari keyakinan yang positif. Namun sikap ini menjadi bodoh ketika
dilakukan secara berlebihan. Sehingga memunculkan benteng terhadap
gagasan-gagasan baru yang sesungguhnya benar.
Hal
ini akhirnya membuat mereka terkungkung dalam kesempitan cara pandang,
sementara di luar benteng mereka ilmu pengetahuan terus berkembang. Doktrin
kebenaran bagi mereka seolah kaku, statis, dan tidak dinamis. Sifat kritis yang
lahir, tumbuh secara tidak seimbang. Hanya mengkritik keluar, namun jarang menggugat
ke dalam sistem apa yang telah diyakini
selama ini. Alhasil kedangkalan pemaknaan terhadap urgensi pengetahuan pun
membuat mereka bergerak dengan mengabaikan modal dasar ; pengetahuan. Penyebab
munculnya sikat konservatif ini tentu beralasan. Munculnya sejumlah gerakan
yang berupaya menyebarkan paham pemikiran dan ideologi mereka di Indonesia
adalah salah satu alasannya. Mahasiswa sebagai generasi masa depan tentu disini
menjadi sasaran strategis. Hal ini kemudian dilakukan melalu berbagai metode,
sehingga akhirnya berhasil mencuci otak para mahasiswa dan membunuh daya kritis
mereka melalui indoktrinasi.Indoktrinasi yang berlangsung secara terus menerus
membuat mereka semakin kerdil. Mereka terkurung dalam kesempitan doktrin,
merasa menjadi yang paling benar dan yang lain adalah salah. Yang salah
dianggap sebagai musuh dan tidak bisa dipercaya. Kelebihan pengetahuan dan
keunggulan lainnya yang dimiliki oleh pihak lain dianggap sebagai sebuah
ancaman terhadap eksistensi mereka. Sehingganya, jalan apapun kemudian
dihalalkan untuk memusnahkan ancaman-ancaman yang membahayakan tersebut, demi
memuluskan jalan meraih kekuasaan politik. Mereka menjadi buta, bodoh,
pecundang, dan tanpa integritas. Inilah bahaya laten dari paham konservatif
yang berkembang dan menjadi hambatan dari berkembangnya gerakan mahasiswa yang
berbasis pengetahuan.
Gerakan mahasiswa yang ideal untuk kondisi zaman
ini adalah, sebuah gerakan yang berani karena berbasis ideology yang benar.
Bukan sebuah gerakan nekat dan konservatif yang kuno, klasik, dan tidak
berkembang serta tidak relevan dengan kebutuhan zaman.Sikap konservatif yang
merebak ini memang cukup dilematis. Di satu sisi hal ini sebagai pertahanan
terhadap nilai-nilai yang dianggap benar, di sisi lain hambatan untuk maju dan
berkembang. Kompleks memang, karena terkait dengan relatifitas asumsi
kebenaran, konspirasi perang pemikiran, dan benturan serta distorsi budaya yang
terjadi antara keyakinan dan kepercayaan. Gerakan mahasiswa ideologis bagaikan
tulang punggung yang mampu memikul tanggung jawab manusia sebagai khalifah di
muka bumi.
Allah SWT pernah memperingatkan kita dalam
suatu ayat
di QS Al-Baqarah:30, yang menyiratkan bahwa manusia ialah makhluk Allah yang
diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Amanah itu tidak-lah semudah membalikkan
telapak tangan saja, melainkan butuh banyak perjuangan (jihad) yang dilandaskan
akan niat ikhlas karena Illahi saja. Kita ambil contoh dari riwayat sahabat
nabi yang membantu Rasulullah SAW dalam membina dakwah di muka bumi sehingga
saat ini kita alhamdulillah merasakan hidayah Islam tersebut yang mahal
harganya. Perjuangan mereka begitu luar biasa, mengorbankan jiwa, raga, ilmu,
tenaga, hingga harta yang mereka miliki hanya untuk menegakkan kalimat Allah di
muka bumi ini, dan mengajak manusia ke amal ma’ruf nahi munkar. Mendengar
istilah ‘ideal’ tentunya yang paling menonjol ialah situasi atau keadaan dimana
sebuah instrument ataupun sistem berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan
atau yang diinginkan.
Wajah
masa depan dunia berada di tangan pemuda-pemudi Muslim. Mereka dituntut
menyelesaikan tiga persoalan global yang kompleks. Tuntutan ini lahir bukan
semata karena banyaknya jumlah pemuda-pemudi Muslim di dunia, tapi juga karena
adanya tanggung jawab keilahian untuk mewujudkan Islam yang rahmatan
lil'alamin.
‘’ ingat? Gerakan mahasiswa yang ideal, tidak hanya sekedar mendapatkan sensasi karena ingin di kenang dalam sejarah ketika menghasilkan berbagai pergolakan dan berhasil menumbangkan rezim, namun gagal menemukan solusi yang tepat untuk mengeluarkan negeri ini dari lembah kenestapaan dan penderitaan.’

Tidak ada komentar:
Posting Komentar