Rabu, 09 September 2015



JEMARI GUBUK DERITA




 HOUSE REVOLUS
Suatu perkenalan yang tak di duga menjadi sebuah tali persaudaraan. Salah satu gubuk kecil perkenalan ini terjadi. Dari berbagai daerah telah mengisi hari-hari gubuk derita. Dengan canda tawa anak-anak ini seakan mengusir kesunyian malam. Berbagai ras telah menyatu dalam ikatan yang kokoh yang tak mudah rapuk, walaupun hembusan angin, ombak tak bisa memisahkan ikatan persaudaraan dan kebersamaan. Di dalam gubuk hiduplah para anak-anak mahasiswa-mahasiswa yang terbaik. mereka nekat meninggalkan kampung halamannya untuk satu tujuan. Demi membanggalkan kedua orang tua mereka serta demi mendapatkan gelar sarjana.
Salah satu dari mereka misalnya tono rela berpetualangan di salah satu ibu kota provinsi sulawesi tenggara. Berharap mendapatkan cita-citanya nanti. Ada juga, ali, juni, junu, andi, kamsini, firman, can, udin, guslin, rinto, bakri, rizal, madan. Mereka berjumlah 14 orang dalam satu rumah ingin berharap membanggalkan orang tua mereka. Di dalam fakultas pun berbeda-beda. Tetapi di satukan dengan gubuk kecil ini. seperti tono dia kuliah di fkip program studi PGSD dia berasal dari endrekan (sulsel). Tono dengan anak cerdas, berani dan sopan membuat suasana rumah jadi indah. Ali dengan pembawaannya yang sederhana, pendiam tetapi ketika bertutur kata bisa membawaan suasana rumah menjadi adem.
Juni dengan ciri khas yang lembut dengan kata-kata yang sopan pada teman-teman dekatnya. Banyak kemudian teman-teman yang dekat dengan dia. Rinto dengan kata-kata ala jawa yang suaranya kecil dan bisa memberikan suasana rumah sunyi. Membuat dia di percaya oleh teman-teman menjadi ketua rumah untuk mengkordinir berbagai masalah yang sering timbul. Rizal dengan kecerdasan berpikir dalam berbagai hal bisa menghilangkan berderitaan rumah. Begitu juga dengan guslin dengan canda tawanya yang imut memberikan penyengaran buat penghuni rumah. Sedangkat Kamsini salah satu penghuni rumah yang memiliki tubuh yang kekar besar dan tinggi di tambah dengan belah dirinya membuat suasana rumah menjadi aman, sehingga di percaya menjadi keamanan rumah.
Ada juga junu yang selalu berpakaian hitam dari lututnya sampai rambutnya, memiliki wajah yang agak murung, membuat rumah menjadi angker bagaikan rumah yang tak punya penghuni. Bakri yang orangnya murah senyum dan amanah ketika di beri tugas, sehingga membuat suasana rumah menjadi ceria dengan canda tawa. Dengan amanah yang ia miliki, membuat seisi rumah menjadikan pemegang uang. Madan yang sifatnya biasa-biasa saja, dan istiqoma dalam rumah ketika penghuni-penghuni banyak kesibukan maka ia hanya menjaga rumah ini dari kesunyiaan.
Di kala itu andi datang mengecek rumah ini bersama salah satu penangung jawab rumah. Siang itu mereka berangkat menggelilingi lorong dan blok tapi rumah ini selalu di lewatinnya. Tetapi pada pukul 14.30 rumah ini berhasil di temukan. Sore harinya mereka berangkat bersama untuk memindakan barang-barangnya ke rumah tadi. Sungguh luar biasa kebersamaan tiada tara. Malam itu mereka tidak bermalam di rumah akan tetapi mereka hanya meletahkan tas dan baju-baju mereka dalam lemari yang sudah dipersiapkan oleh pihak rumah.
Tetapi andi memberi inisiatif untuk bermalam sambil menghirup udara segar rumah. Ia kemudian di temani dua penangung jawab rumah. Sebelum mereka meningalkan rumah mereka bermusyawara dalam hal pemilihan kepalah rumah dan bendahara rumah. Maka di situlah di pilih saudara rinto untuk mengambil ahli dalam permasalahan rumah. Sedangkat bakri di tunjuk sebagai pemegang uang. Salah satu dari mereka mengusulkan nama rumah ini. Maka dengan spontak andi memberika nama rumah revolusi. Ini juga di dukung oleh teman-teman penghuni rumah yang lain.
Ø  Keluarga Harmonis.
Memiliki hubungan yang harmonis dan juga ewek bukanlah merupakan hal yang terbilang mudah. Apalagi jika mempunyai teman-teman yang berbeda karakter, yang mempunyai banyak warna dalam ikatan persahabatan. Setiap orang tentu mempunyai ego masing-masing yang kadang-kadang dapat mengalahkan segalah hati dan pemikirannya. Hubungan hal ini sangat penting agar suasana rumah menjadi aman, tentram dan tidak merasa jenuh. Terlebih lagi mereka berbeda-beda warna kulit, ras, suku dan yang lain-lain, bercampur menjadi satu bagian yang kokoh dengan ideologi yang pas. Sehingga di dalam gubuk (rumah) menjadi warna-warni ibarat pelangi yang ada di langit.
Jika ada seseorang yang mengalami hal yang buruk di dalam rumah maka yang lainnya ikut bertindak memberikan solusi, serta menyadarkan kembali pemikirannya untuk berpikir positif. Itulah keharmonisasi yang mereka jalani. Rumah ini terisi dengan orang-orang yang memiliki tinggkat keharmonisasi yang cukup bagus dalam hal apapun. Apalagi di ikat dengan ideologi islam yang telah menyatuh dalam jiwa dan perbuatan mereka. Mereka saling menerima kritikan, saran masukkan satu sama lain. Tidak ada pertengkaran apalagi keributan. Mereka saling mengisi kekosongan yang ada di rumah ini. Setiap individu memang mempunyai kelebihan, dan tentu saja akan mempunyai kekurangan juga. Begitu juga dengan masing-masing penghuni rumah revolusi, pasti tidak luput dari kekurangan dan kelebihan. Maka mereka mencoba untuk dapat menerima satu sama lain, karena mereka memang yakin tidak ada yang  sempurna. Di saat ada dari mereka yang melakukan somborongan pasti saling menegur untuk kebaikan rumah yang mereka jalani dengan hati yang iklas dan bersih.
 Komunikasi mereka sangat erat sehingga mudah diatur. Komunikasi ini juga merupakan salah satu hal penting yang harus di miliki penghuni rumah revolusi dalam suatu hubungan harmonis dan di samping itu kejujuran. Pertengkaran di antara mereka selalu di komunikasikan dengan baik ketika ada hal-hal yang tergancar di dalam benag penghuni. Rizal selalu memberikan warna dengan solusi dan pendapatnya untuk menyatuhkan kebersamaan penghuni. Masalah rumah yang datang secara mudah dihindari serta lebih mudah di selesaikan, karna ikatan ideologi persahabatan yang kokoh. Ketika mereka punya masalah baik itu tak punya uang, beras dan yang lain-lannya.
Penderitaan bukanlah di pendam dan akahirnya menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja. Memberi ruang kepada salah satu penghuni ketika menghadapi cobaan. Apalagi cobaan itu juga saling di rasakan secara bersama. Hanya kekuatan senyum, canda tawa penghuni menjadi hiburan mereka saling melengkapi dan menghabiskan waktu bersama. Ini untuk menghindari kejenuhan berpikir sehingga tidak menimbulkan banyak masalah. Selalu melakukan hal-hal yang spesial. Dalam memberi seperti ketika mereka bertugas membersihkan rumah, mencuci piring dan lain-lainnya.
Walaupun mereka beribu masalah baik di kampus, orang tua, keuangan yang mulai menipis tetapi sumber kebahagian itu tetap ada. Mencoba melakukan hal-hal yang baru yang belum pernah dilakukan. Ini akan menjadikan salah satu cara terbaik untuk dapat membunuh kejenuhan dengan teman-teman penghuni yang lain bahkan orang lain yang sering datang bertamu. Itulah keluarga kecil rumah revolusi yang harmonis.
Hal ini sering terjadi ketika mereka bersama-sama dalam satu pekerjaan. Di malam itu sehabis sholat isya mereka berkumpul di lobi rumah. Mereka merampuk masalah kebersihan halaman rumah. Rinto yang sebagai kepalah keluarga memimpin rapat. Banyak kemudian yang di berikan untuk rumah revolusi sehingga tetap bersih dan awet. Di dalam rapat tersebut satu sama lain memberikan masukkan, seperti madan memberikan masukkan untuk piket rumah revolusi demi kelancaran rumah. Ada juga firman memberikan saran untuk kerja bakti setiap hari minggu dalam melaksanakan piket bersama di halaman rumah. Guslin memberi saran untuk tetap ada kajian-kajian rumah di shubuh hari.
Setelah saran terkumpul semua masukkan maka rinto memustuskan untuk saran penghuni rumah. Kemudian secara bersama-sama menyanggupi saran tersebut. Tibalah hari minggu, yang kemudian mereka tunggu-tunggu untuk melaksanakan piket bersama dalam kerja bakti di halaman rumah. Pagi itu sehabis shalat shubut sudah terlihat penghuni rumah ini sibuk. Sebelum mereka melangkah kehalaman depan, mereka membersihkan kamar yang mereka huni. Guslin bersama udin merapikan barang-barang yang kotor di dapur, memasak nasi dan lauk. Untuk sarapan pagi penghuni. Kemudian penghuni yang lain juga sibuk di halaman depan. Setelah mereka sehabis membesihkan di dapur, guslin dan udin membersihkan lobi rumah, ruang tamu dan tidak lupa juga kamar mandi.
Sehabis mereka melaksanakan tanggujawabnya, Guslin dan Udin berkumpul bersama-sama teman-teman penghuni yang lain di depan rumah. Bakri juga mengikuti mereka di belakang, yang tadinya dia sehabis mencuci pakaian kotornya. Meraka saling membahu satu sama lain. Ada menyapu, ada yang memcabut-cabut ramput, ada memungut sampah-sampah rumah yang berhamburan di mana-mana, ada juga yang memangkas pohon yang menghalagi keindahan rumah, ada yang menyiram bunga, dan ada juga yang sibuk membuang sampah. Tugas ini mereka lakukan dengan baik dan penuh kesadaran.
Seperti halnya Tono yang menyapu halaman rumah, Can yang bertugas memengut sampah-sampah plastik yang berhamburan di mana-mana. Rizal dan Firman mencabut rumput di halaman, Rinto membantu tono menyapu. Andi bertugas memankas de daunan di bantu dengan madan. Guslin dan Udin terlihat menyiram bunga dan Ali, Bakri, serta Junu membuang sampah yang sudah di bersihkan.
Kegiatan ini mereka rutinitas setiap hari minggu di saat-saat libur. Sehingga mendapatkan kenyaman rumah yang bersih dan indah di pandang. Di lihat jelas kekompahkan mereka semua dalam hal kebersihan rumah. Sehingga menjadi keluarga kecil. Mereka tampak di suruhpun membersihkan rumah ini. Setelah semua pekerjaan selesai mereka kembali ke dalam rumah untuk mencicipi sarapan pagi sebelum beraktifitas di luar rumah. Ikatan kekeluarga berlangsung terus menerus dalam gubuk (rumah) derita. Tak pernah ada rasa bosan atau malas serta menjadi bos. Tetapi kerja sama lah yang terlihat ketika mereka berkumpul dalam hal kebersihan dan yang lain-lainnya. Setelah itu mereka mandi untuk siap-siap keluar. Walaupun mereka harus atrian mandi, karna di dalam rumah tersebut hanya terdapat dua kamar dua mandi. Kebahagian itu terlihat jelas di mata mereka. Kekeluargaan terlihat juga ketika mereka berangkat sama-sama ke mesjid untuk sholat. Setiap hari mereka lakukan dan saling menggigatkan hal beribadah.
Ø  Membawa Impian
Mereka semua bermimpi besar untuk mendapatkan cita-cita yang sudah lama di kejar. Mimpi-mimpi ini terlihat jelas tak kalah dorongan orang tua dan kebersamaan mereka di dalam rumah ini. Saling menjaga, saling membantuh, saling menolong akan menjadikan gairah semangat mereka. Pada suatu hari mereka asyik-asyik berdiskusi di teras rumah. Yang sudah di sediakan bangku untuk tempat duduk mereka. Andi dan Tono melakukan dialog tentang cita-cita dan impian yang akan datang. Senyum dan canda tawa mereka seolah-olah mendapatkan sesuatu yang telah di raih.
Di dalam percakapan ini Tono bertanya kepada Andi tentang impian dia dari target wisuda sampai hal-hal yang lebih jauh lagi pembahasannya. Tono memulai dengan bertanya kepada Andi sehabis wisuda and...! menjadi apa. Andi menjawab pertanyaan tersebut dengan nada yang sederhana. Aku ingin menjadi seperti ilmuwan-ilmuwan yang bisa membuat robot. Seperti yang pernah dilakukan oleh para ilmuwan-ilmuwan terdahulu. Sedangkat impian yang lain dapat membahagiankan orang tua saya atas karya-karya yang aku dapatkan nanti. Walaupun memang dengan kondisi ekonomi orang tua yang tidak memadai. Lalu Tono kembali bertanya kepada Andi tentang impiannya tersebut.
Ia mengatahkan bahwa membaut robot tak segampat yang Andi pikirkan. Lalu Andi menjawab yang ia impikan itu memang sulit. Dengan adanya tegnologi yang canggi itu bisa di lakukan. Walaupun serumit Tono pikirkan dengan dukungan tegnologi dan kemauhan yang tinggi semua itu bisa berjalan. Beribu kali percobaan pun tak ada masalah baut Andi. Seperti hal yang di lakukan oleh penemu bola lampu yang memiliki 99 kali percobaan menggalami kegagalan dan hanya satu kali mendapatkan keberhasilan. Selajutnya Andi menambahkan bahwa kegagalan bukan sesautu yang harus menjadikan ia jatuh dari impian. seseorang yang mengalami kegagalan seharusnya untuk menjadikannya lebih bersemangat lagi.
Seperti halnya anak dan ibu. Kegagalan adalah ibu dari keberhasilan seseorang. Andi lanjut kemudia bertanya kepada sahabatnya tersebut cita-cita dan impian masa depannya nanti. Tono dengan senang hati menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Andi kepadanya. Bahwa ia sejak kecil menjadi seorang guru atau dosen. Untuk mengajarkan kepada anak-anak didiknya menjadi orang yang berguna, pintar dan cerdas.
Memang Tono saat ini melajutkan pendidikannya pada fakultas keguruaan. Tak lama kemudian Junu menghampiri Tono dan Andi yang lagi-lagi serunya berdialog. Ia hadir dengan wajah yang murung seperti ada sesuatu yang telah di sembunyikan, wajah ini tak asing lagi buat Tono dan Andi wajah dengan banyak masalah. lalu ia mendengarkan cerita Andi ia malah tertawa kecil dengan impian kedua sahabatnya tersebut. Tetapi walaupun begitu Junu mengdukung impian-impian sahabatnya tersebut, padahal ketika kita lihat raut wajahnya yang penuh kebohongan.
Tiba-tiba Tono berbaling bertanya kepada Junu tentang yang ia sudah save di dalam memori otaknya. Junu memang keahlian dalam komputer. Sehingga ia lebih memilih kuliah di IT teknik. Ia pintar mengotak atik seluruh isi komputer. Sehingga ia menjadi IT yang profesiaonal. Lalu tak berselah lama juni bergabung dalam dialog kecil ini. Walaupun ia adalah mahasiswa kesahatan masyrakat tetapi impian tersebut bertolak belakang dengan penjurusannya. Mala ia ingin menjadi seorang photografis profesional.
Ia menjelaskan bahwa memang mempunyai ia menpunyai bekrot di kesehatan masyarakat tetapi dia lebih memilih suka dalam photografis. Ini dibuktikan dengan keahliannya dalam memotret sesuatu benda. Semangat dalam diskusi itu kiat membara ketika mereka saling menatap dan saling mendukung satu sama lain. Keyakinan pada diri mereka terhadap apa yang mereka dapatkan nanti. Mereka semua mempunyai impian yang berbeda-beda tetapi mereka mempunyai semangat yang sama. Andi bertekad keras terhadap keilmuwannya, begitu juga dengan Juni dan Tono.
Visi misi yang sudah mereka paparkan menjadi satu kesatuan dan bukti yang nyata. Junu menyatakan kepada 3 orang sahabatnya ini. Bahwa apa yang kalian impikan terlaksanakan jika visi dan misi kalian sama. Seperti hal para pemain bulu tanggkis yang mempunyai visi dan misi yang sama dalam meraih tropi. Menang atau kalah mereka tetap satu. Yang misalkan hasil jadi seseorang ilmuwan maka harus di penuhi dengan teknologi yang memadai Itulah tugas IT. rumah ini membawah sejuta impian dari anak-anak penghuni rumah revolusi. Berbagai hal itu terjadi ketika mereka selalu bersama. Sehingga sejuta masalah pun dapat terobati.
Ø  Ikatan Suci
Dalam cinta ada kasih, dalam kasih ada sayang dalam sayang ada perjuangan. dalam perjuangan ada pengorbanan, dalam pengorbanan ada ketulusan. Ketulusan hati penghuni rumah revolusi dalam memahami karakter. Berbagai macam karakter yang timbul dari sanubari, akan tetapi karakter tersebut dapat di bunuh dengan ikatan suci ideologi. Dalam rumah ini dihiasi dengan perjuangan, perjuangan dalam hal menggapai cita-cita dan perjuangan dalam ideologi islam. Rumah revolusi telah melahirkan kader-kader pengembah dakwah yang tanggung. Berbagai macam pergorbanan, harta serta waktu mereka telah di habiskan untuk dakwah. Dengan ikatan suci seakan timbul kegairaan dalam jiwa mereka.

Pergorbanan yang telah mereka berikan tak dapat di hitung lagi. Atap menjadi saksi lamput dan hiasan-hiasan rumah revolusi seakan tunduk berlutut kasut dalam benang. Melihat pergorbanan yang muncul. Di kalah mereka merasa lapar,  di kalah di timpah musibah mereka tak sedikitpun acuh tak acuh dengan sahabat mereka. Kesucian hati mereka dalam kebersamaan menunaikan suatu kewajiban dalam beragama. Ide dan pikiran mereka tak jauh dari pemikiran islam, mereka menggangap bahwa dengan ide islam ini di satuhkan.

Ini terlihat ketika mereka pertama datang di rumah yang tak punya penghuni ini. Mereka tak saling menggenal akan tetapi ikatan suci ini memberi taukan semua. Seperti halnya junu dan juni yang berbeda jauh tempat yang satu di daratan yang satu di kepulauhan menjadikan mereka saling kenal, saling membahu. Bergandeng tangan seolah saudara yang lama sudah dikenal. Tatapan rumah revolusi ini ikut tersenyum, yang mana sejak lama tak pernah tersenyum hanya kesunyian malam dan siang yang terus melandak rumah ini. Tapi sekarang kesunyian itu sudah di terobati dengan kebahagian, keakraban dan saling tolong menolong.

Dalam ketulusan ada keikhlasan, dalam keikhlasan ada kesabaran. dalam kesabaran ada tawakal Ketika tawakal ada doa. Setiap doa terurai untaian kata Kata mengalir atas jajaran abjad Dan abjad. terbentuk atas garis yang berirama Kau tahu dari mana garis itu terbentuk. Dia terbentuk atas rangkaian titik yang tulus. Tahukah kau apa arti semua yang kutulis? Artinya, dalam cinta dan kasih sayang bermuaralah di sebuah titik. Sebuah titik yang ‘kan menyatukan si isi rumah yang berarti cinta, kasih sayang, pegorbanan dan perjuangan telah menyatuh. Bagaikan tali pengikat sapu lidi yang tak akan patah.

Ketulusan hati yang mereka tanamkan tak tercabut lagi. Saling merenggu, saling memberi kepercayaan membuat semua tak perdaya. Apalagi ketika mereka saling berjabat tangan, saling menyapa baik dalam keadaan suram maupun senang. Ketulusan itu juga sering timbul ketika dalam memahamkan pikiran yang tadinya tak jernih menjadi putih tak bernoda. Putih bagaikan kesucian pada air yang tenang dan jernih ini. Semisalkan rinto diberi amanah, maka dengan ketulusan mengambil amanah rumah ini untuk memberikan sentuhan-sentuhan jiwa dan ide. Ia tak kenal lelah, sebesar apapun masalah tetap di jalankan.

Untaian doa dari penghuni rumah ini seakan rumah menjadi bersih, bagaikan air yang mengalir dari tempat yang pancuran air liar. Doa terus di panjatkan untuk tetap istiqoma dalam menghadapi masa depan. Saling mendoakan tetap terucapkan pada bibir mereka, seolah ikatan suci ini tak merasa pendam. Mereka mengobati rindu dengan tutur kata doa yang setiap hari setiap malam terucap.

Tawakal kepada allah telah menjadikan dinding-dinding rumah revolusi terlihat elok dan cantik. Rumah revolusi di isi dengan orang yang bersujud syukur dengan rabbnya. Gemurangan takbir, lentahun ayat-ayat allah dan bersujud kepada allah tak pernah putus. Membuat rumah ini seakan merasa tenang di jiwa, hati dan pikiran para penghuni. Saling mengajarkan dan membenah ketika sesuatu yang salah, untuk kemudian di benarkan. Rinto dianggap sebagai guru, selalu membarikan pencarahan buat penghuni rumah.
Di kalah pagi hari terlihat penghuni rumah memandang wajah bahagia.  seolah berharap ada yang menyapa Beriring denagan mentari yang mulai memancarkan sinarnya. Bayangan yang indah terlihat jika itu datang dari senyum penghun. Ada sesuatu yang menyapa tiap paginya Hingga semua tahu ikatan mereka yang begitu kokoh. Kala siang Mungkin semua pernah terbayang. Dengan mereka yang seolah berkasih sayang rumah revolusi terlihat jelas.

Berharap ada yang menemani Melewati terik panas mentari Bayangkan betapa bahagia jika seseorang miliki Ada seseorang yang bersamamu tiap hari Hingga kau sadar ada ikatan suci persahabatan. Hingga sore tiba Mungkin semua orang pernah mengira dengan mereka yang seolah berbagi rasa Berharap ada yang mau bersama. Menikmati mentari menuju senja ini semua tak teramal buruk tapi ada bahagia.

Ada seseorang yang mau berbagi canda tawa, hingga kau paham ikatan persahabatan mereka. hingga datang lah malam Mungkin saat itu semua sudah paham dengan berbagai karakter. yang harus bertahan, hadapi semua cobaan godaan Menunggu datangnya senja yang terang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar