JEMARI GUBUK DERITA
HOUSE REVOLUS
Suatu
perkenalan yang tak di duga menjadi sebuah tali persaudaraan. Salah satu gubuk
kecil perkenalan ini terjadi. Dari berbagai daerah telah mengisi hari-hari
gubuk derita. Dengan canda tawa anak-anak ini seakan mengusir kesunyian malam.
Berbagai ras telah menyatu dalam ikatan yang kokoh yang tak mudah rapuk,
walaupun hembusan angin, ombak tak bisa memisahkan ikatan persaudaraan dan
kebersamaan. Di dalam gubuk hiduplah para anak-anak mahasiswa-mahasiswa yang
terbaik. mereka nekat meninggalkan kampung halamannya untuk
satu tujuan. Demi membanggalkan
kedua orang tua mereka serta demi mendapatkan gelar sarjana.
Salah
satu dari mereka misalnya tono rela berpetualangan di salah satu ibu kota provinsi
sulawesi tenggara. Berharap mendapatkan cita-citanya nanti. Ada juga, ali,
juni, junu, andi, kamsini, firman, can, udin, guslin, rinto, bakri, rizal,
madan. Mereka berjumlah 14 orang dalam satu rumah ingin berharap membanggalkan orang tua mereka.
Di dalam fakultas pun berbeda-beda. Tetapi di satukan dengan gubuk kecil ini.
seperti tono dia kuliah di fkip program studi PGSD dia berasal dari endrekan
(sulsel). Tono dengan anak cerdas, berani dan sopan membuat suasana rumah jadi
indah. Ali dengan pembawaannya yang sederhana, pendiam tetapi ketika bertutur
kata bisa membawaan suasana rumah menjadi adem.
Juni
dengan ciri khas yang lembut dengan kata-kata yang sopan pada teman-teman
dekatnya. Banyak kemudian teman-teman yang dekat dengan dia. Rinto dengan
kata-kata ala jawa yang suaranya kecil dan bisa memberikan suasana rumah sunyi.
Membuat dia di percaya oleh teman-teman menjadi ketua rumah untuk mengkordinir
berbagai masalah yang sering timbul. Rizal dengan kecerdasan berpikir dalam
berbagai hal bisa menghilangkan berderitaan rumah. Begitu juga dengan guslin
dengan canda tawanya yang imut memberikan penyengaran buat penghuni rumah. Sedangkat Kamsini salah satu penghuni rumah yang memiliki
tubuh yang kekar besar dan tinggi di tambah dengan belah dirinya membuat
suasana rumah menjadi aman, sehingga di percaya menjadi keamanan rumah.
Ada juga junu yang selalu berpakaian hitam dari lututnya
sampai rambutnya, memiliki wajah yang agak murung, membuat rumah menjadi angker
bagaikan rumah yang tak punya penghuni. Bakri yang orangnya murah senyum dan
amanah ketika di beri tugas, sehingga membuat suasana rumah menjadi ceria
dengan canda tawa. Dengan amanah yang ia miliki, membuat seisi rumah menjadikan
pemegang uang. Madan yang sifatnya biasa-biasa saja, dan istiqoma dalam rumah
ketika penghuni-penghuni banyak kesibukan maka ia hanya menjaga rumah ini dari
kesunyiaan.
Di
kala itu andi datang mengecek rumah ini bersama salah satu penangung jawab
rumah. Siang itu mereka berangkat menggelilingi lorong dan blok tapi rumah ini
selalu di lewatinnya. Tetapi pada pukul 14.30 rumah ini berhasil di temukan.
Sore harinya mereka berangkat bersama untuk memindakan
barang-barangnya ke rumah tadi. Sungguh luar
biasa kebersamaan tiada tara. Malam itu mereka tidak bermalam di rumah akan
tetapi mereka hanya meletahkan tas dan baju-baju mereka dalam lemari yang sudah
dipersiapkan oleh pihak rumah.
Tetapi andi memberi inisiatif untuk bermalam sambil
menghirup udara segar rumah. Ia kemudian di temani dua penangung jawab rumah.
Sebelum mereka meningalkan rumah mereka bermusyawara dalam hal pemilihan
kepalah rumah dan bendahara rumah. Maka di situlah di pilih saudara rinto untuk
mengambil ahli dalam permasalahan rumah. Sedangkat bakri di tunjuk sebagai
pemegang uang. Salah satu dari mereka mengusulkan nama rumah ini. Maka dengan
spontak andi memberika nama rumah revolusi. Ini juga di dukung oleh teman-teman
penghuni rumah yang lain.
Ø Keluarga Harmonis.
Memiliki hubungan yang harmonis dan juga ewek bukanlah
merupakan hal yang terbilang mudah. Apalagi jika mempunyai teman-teman yang
berbeda karakter, yang mempunyai banyak warna dalam ikatan persahabatan. Setiap
orang tentu mempunyai ego masing-masing yang kadang-kadang dapat mengalahkan
segalah hati dan pemikirannya. Hubungan hal ini sangat penting agar suasana
rumah menjadi aman, tentram dan tidak merasa jenuh. Terlebih lagi mereka
berbeda-beda warna kulit, ras, suku dan yang lain-lain, bercampur menjadi satu
bagian yang kokoh dengan ideologi yang pas. Sehingga di dalam gubuk (rumah) menjadi
warna-warni ibarat pelangi yang ada di langit.
Jika ada seseorang yang mengalami hal yang buruk di dalam
rumah maka yang lainnya ikut bertindak memberikan solusi, serta menyadarkan
kembali pemikirannya untuk berpikir positif. Itulah keharmonisasi yang mereka
jalani. Rumah ini terisi dengan orang-orang yang memiliki tinggkat
keharmonisasi yang cukup bagus dalam hal apapun. Apalagi di ikat dengan
ideologi islam yang telah menyatuh dalam jiwa dan perbuatan mereka. Mereka
saling menerima kritikan, saran masukkan satu sama lain. Tidak ada pertengkaran
apalagi keributan. Mereka saling mengisi kekosongan yang ada di rumah ini.
Setiap individu memang mempunyai kelebihan, dan tentu saja akan mempunyai
kekurangan juga. Begitu juga dengan masing-masing penghuni rumah revolusi,
pasti tidak luput dari kekurangan dan kelebihan. Maka mereka mencoba untuk
dapat menerima satu sama lain, karena mereka memang yakin tidak ada yang sempurna. Di saat ada dari mereka yang
melakukan somborongan pasti saling menegur untuk kebaikan rumah yang mereka
jalani dengan hati yang iklas dan bersih.
Komunikasi mereka
sangat erat sehingga mudah diatur. Komunikasi ini juga merupakan salah satu hal
penting yang harus di miliki penghuni rumah revolusi dalam suatu hubungan
harmonis dan di samping itu kejujuran. Pertengkaran di antara mereka selalu di
komunikasikan dengan baik ketika ada hal-hal yang tergancar di dalam benag
penghuni. Rizal selalu memberikan warna dengan solusi dan pendapatnya untuk
menyatuhkan kebersamaan penghuni. Masalah rumah yang datang secara mudah
dihindari serta lebih mudah di selesaikan, karna ikatan ideologi persahabatan
yang kokoh. Ketika mereka punya masalah baik itu tak punya uang, beras dan yang
lain-lannya.
Penderitaan bukanlah di pendam dan akahirnya menjadi bom
waktu yang akan meledak kapan saja. Memberi ruang kepada salah satu penghuni
ketika menghadapi cobaan. Apalagi cobaan itu juga saling di rasakan secara
bersama. Hanya kekuatan senyum, canda tawa penghuni menjadi hiburan mereka
saling melengkapi dan menghabiskan waktu bersama. Ini untuk menghindari
kejenuhan berpikir sehingga tidak menimbulkan banyak masalah. Selalu melakukan
hal-hal yang spesial. Dalam memberi seperti ketika mereka bertugas membersihkan
rumah, mencuci piring dan lain-lainnya.
Walaupun mereka beribu masalah baik di kampus, orang tua,
keuangan yang mulai menipis tetapi sumber kebahagian itu tetap ada. Mencoba
melakukan hal-hal yang baru yang belum pernah dilakukan. Ini akan menjadikan
salah satu cara terbaik untuk dapat membunuh kejenuhan dengan teman-teman
penghuni yang lain bahkan orang lain yang sering datang bertamu. Itulah
keluarga kecil rumah revolusi yang harmonis.
Hal ini sering terjadi ketika mereka bersama-sama dalam
satu pekerjaan. Di malam itu sehabis sholat isya mereka berkumpul di lobi
rumah. Mereka merampuk masalah kebersihan halaman rumah. Rinto yang sebagai kepalah
keluarga memimpin rapat. Banyak kemudian yang di berikan untuk rumah revolusi
sehingga tetap bersih dan awet. Di dalam rapat tersebut satu sama lain
memberikan masukkan, seperti madan memberikan masukkan untuk piket rumah
revolusi demi kelancaran rumah. Ada juga firman memberikan saran untuk kerja
bakti setiap hari minggu dalam melaksanakan piket bersama di halaman rumah. Guslin
memberi saran untuk tetap ada kajian-kajian rumah di shubuh hari.
Setelah saran terkumpul semua masukkan maka rinto
memustuskan untuk saran penghuni rumah. Kemudian secara bersama-sama
menyanggupi saran tersebut. Tibalah hari minggu, yang kemudian mereka
tunggu-tunggu untuk melaksanakan piket bersama dalam kerja bakti di halaman
rumah. Pagi itu sehabis shalat shubut sudah terlihat penghuni rumah ini sibuk.
Sebelum mereka melangkah kehalaman depan, mereka membersihkan kamar yang mereka
huni. Guslin bersama udin merapikan barang-barang yang kotor di dapur, memasak
nasi dan lauk. Untuk sarapan pagi penghuni. Kemudian penghuni yang lain juga
sibuk di halaman depan. Setelah mereka sehabis membesihkan di dapur, guslin dan
udin membersihkan lobi rumah, ruang tamu dan tidak lupa juga kamar mandi.
Sehabis mereka melaksanakan tanggujawabnya, Guslin dan
Udin berkumpul bersama-sama teman-teman penghuni yang lain di depan rumah.
Bakri juga mengikuti mereka di belakang, yang tadinya dia sehabis mencuci
pakaian kotornya. Meraka saling membahu satu sama lain. Ada menyapu, ada yang
memcabut-cabut ramput, ada memungut sampah-sampah rumah yang berhamburan di
mana-mana, ada juga yang memangkas pohon yang menghalagi keindahan rumah, ada
yang menyiram bunga, dan ada juga yang sibuk membuang sampah. Tugas ini mereka
lakukan dengan baik dan penuh kesadaran.
Seperti halnya Tono yang menyapu halaman rumah, Can yang
bertugas memengut sampah-sampah plastik yang berhamburan di mana-mana. Rizal
dan Firman mencabut rumput di halaman, Rinto membantu tono menyapu. Andi
bertugas memankas de daunan di bantu dengan madan. Guslin dan Udin terlihat
menyiram bunga dan Ali, Bakri, serta Junu membuang sampah yang sudah di
bersihkan.
Kegiatan ini mereka rutinitas setiap hari minggu di
saat-saat libur. Sehingga mendapatkan kenyaman rumah yang bersih dan indah di
pandang. Di lihat jelas kekompahkan mereka semua dalam hal kebersihan rumah.
Sehingga menjadi keluarga kecil. Mereka tampak di suruhpun membersihkan rumah ini.
Setelah semua pekerjaan selesai mereka kembali ke dalam rumah untuk mencicipi
sarapan pagi sebelum beraktifitas di luar rumah. Ikatan kekeluarga berlangsung
terus menerus dalam gubuk (rumah) derita. Tak pernah ada rasa bosan atau malas
serta menjadi bos. Tetapi kerja sama lah yang terlihat ketika mereka berkumpul
dalam hal kebersihan dan yang lain-lainnya. Setelah itu mereka mandi untuk
siap-siap keluar. Walaupun mereka harus atrian mandi, karna di dalam rumah
tersebut hanya terdapat dua kamar dua mandi. Kebahagian itu terlihat jelas di
mata mereka. Kekeluargaan terlihat juga ketika mereka berangkat sama-sama ke
mesjid untuk sholat. Setiap hari mereka lakukan dan saling menggigatkan hal
beribadah.
Ø Membawa Impian
Mereka semua bermimpi besar untuk mendapatkan cita-cita
yang sudah lama di kejar. Mimpi-mimpi ini terlihat jelas tak kalah dorongan
orang tua dan kebersamaan mereka di dalam rumah ini. Saling menjaga, saling
membantuh, saling menolong akan menjadikan gairah semangat mereka. Pada suatu
hari mereka asyik-asyik berdiskusi di teras rumah. Yang sudah di sediakan
bangku untuk tempat duduk mereka. Andi dan Tono melakukan dialog tentang
cita-cita dan impian yang akan datang. Senyum dan canda tawa mereka seolah-olah
mendapatkan sesuatu yang telah di raih.
Di dalam percakapan ini Tono bertanya kepada Andi tentang
impian dia dari target wisuda sampai hal-hal yang lebih jauh lagi
pembahasannya. Tono memulai dengan bertanya kepada Andi sehabis wisuda and...!
menjadi apa. Andi menjawab pertanyaan tersebut dengan nada yang sederhana. Aku
ingin menjadi seperti ilmuwan-ilmuwan yang bisa membuat robot. Seperti yang
pernah dilakukan oleh para ilmuwan-ilmuwan terdahulu. Sedangkat impian yang
lain dapat membahagiankan orang tua saya atas karya-karya yang aku dapatkan
nanti. Walaupun memang dengan kondisi ekonomi orang tua yang tidak memadai.
Lalu Tono kembali bertanya kepada Andi tentang impiannya tersebut.
Ia mengatahkan bahwa membaut robot tak segampat yang Andi
pikirkan. Lalu Andi menjawab yang ia impikan itu memang sulit. Dengan adanya
tegnologi yang canggi itu bisa di lakukan. Walaupun serumit Tono pikirkan
dengan dukungan tegnologi dan kemauhan yang tinggi semua itu bisa berjalan.
Beribu kali percobaan pun tak ada masalah baut Andi. Seperti hal yang di
lakukan oleh penemu bola lampu yang memiliki 99 kali percobaan menggalami
kegagalan dan hanya satu kali mendapatkan keberhasilan. Selajutnya Andi
menambahkan bahwa kegagalan bukan sesautu yang harus menjadikan ia jatuh dari
impian. seseorang yang mengalami kegagalan seharusnya untuk menjadikannya lebih
bersemangat lagi.
Seperti halnya anak dan ibu. Kegagalan adalah ibu dari
keberhasilan seseorang. Andi lanjut kemudia bertanya kepada sahabatnya tersebut
cita-cita dan impian masa depannya nanti. Tono dengan senang hati menjawab
pertanyaan yang di lontarkan oleh Andi kepadanya. Bahwa ia sejak kecil menjadi
seorang guru atau dosen. Untuk mengajarkan kepada anak-anak didiknya menjadi
orang yang berguna, pintar dan cerdas.
Memang Tono saat ini melajutkan pendidikannya pada
fakultas keguruaan. Tak lama kemudian Junu menghampiri Tono dan Andi yang
lagi-lagi serunya berdialog. Ia hadir dengan wajah yang murung seperti ada
sesuatu yang telah di sembunyikan, wajah ini tak asing lagi buat Tono dan Andi
wajah dengan banyak masalah. lalu ia mendengarkan cerita Andi ia malah tertawa
kecil dengan impian kedua sahabatnya tersebut. Tetapi walaupun begitu Junu
mengdukung impian-impian sahabatnya tersebut, padahal ketika kita lihat raut
wajahnya yang penuh kebohongan.
Tiba-tiba Tono berbaling bertanya kepada Junu tentang
yang ia sudah save di dalam memori otaknya. Junu memang keahlian dalam
komputer. Sehingga ia lebih memilih kuliah di IT teknik. Ia pintar mengotak
atik seluruh isi komputer. Sehingga ia menjadi IT yang profesiaonal. Lalu tak
berselah lama juni bergabung dalam dialog kecil ini. Walaupun ia adalah mahasiswa
kesahatan masyrakat tetapi impian tersebut bertolak belakang dengan
penjurusannya. Mala ia ingin menjadi seorang photografis profesional.
Ia menjelaskan bahwa memang mempunyai ia menpunyai bekrot
di kesehatan masyarakat tetapi dia lebih memilih suka dalam photografis. Ini
dibuktikan dengan keahliannya dalam memotret sesuatu benda. Semangat dalam
diskusi itu kiat membara ketika mereka saling menatap dan saling mendukung satu
sama lain. Keyakinan pada diri mereka terhadap apa yang mereka dapatkan nanti. Mereka
semua mempunyai impian yang berbeda-beda tetapi mereka mempunyai semangat yang
sama. Andi bertekad keras terhadap keilmuwannya, begitu juga dengan Juni dan
Tono.
Visi misi yang sudah mereka paparkan menjadi satu
kesatuan dan bukti yang nyata. Junu menyatakan kepada 3 orang sahabatnya ini. Bahwa
apa yang kalian impikan terlaksanakan jika visi dan misi kalian sama. Seperti
hal para pemain bulu tanggkis yang mempunyai visi dan misi yang sama dalam
meraih tropi. Menang atau kalah mereka tetap satu. Yang misalkan hasil jadi
seseorang ilmuwan maka harus di penuhi dengan teknologi yang memadai Itulah
tugas IT. rumah ini membawah sejuta impian dari anak-anak penghuni rumah
revolusi. Berbagai hal itu terjadi ketika mereka selalu bersama. Sehingga
sejuta masalah pun dapat terobati.
Ø Ikatan Suci
Dalam cinta ada kasih, dalam
kasih ada sayang dalam sayang ada perjuangan. dalam perjuangan ada pengorbanan,
dalam pengorbanan ada ketulusan. Ketulusan hati penghuni rumah revolusi dalam
memahami karakter. Berbagai macam karakter yang timbul dari sanubari, akan
tetapi karakter tersebut dapat di bunuh dengan ikatan suci ideologi. Dalam rumah
ini dihiasi dengan perjuangan, perjuangan dalam hal menggapai cita-cita dan
perjuangan dalam ideologi islam. Rumah revolusi telah melahirkan kader-kader
pengembah dakwah yang tanggung. Berbagai macam pergorbanan, harta serta waktu
mereka telah di habiskan untuk dakwah. Dengan ikatan suci seakan timbul kegairaan
dalam jiwa mereka.
Pergorbanan yang telah mereka
berikan tak dapat di hitung lagi. Atap menjadi saksi lamput dan hiasan-hiasan
rumah revolusi seakan tunduk berlutut kasut dalam benang. Melihat pergorbanan
yang muncul. Di kalah mereka merasa lapar,
di kalah di timpah musibah mereka tak sedikitpun acuh tak acuh dengan
sahabat mereka. Kesucian hati mereka dalam kebersamaan menunaikan suatu
kewajiban dalam beragama. Ide dan pikiran mereka tak jauh dari pemikiran islam,
mereka menggangap bahwa dengan ide islam ini di satuhkan.
Ini terlihat ketika mereka
pertama datang di rumah yang tak punya penghuni ini. Mereka tak saling
menggenal akan tetapi ikatan suci ini memberi taukan semua. Seperti halnya junu
dan juni yang berbeda jauh tempat yang satu di daratan yang satu di kepulauhan
menjadikan mereka saling kenal, saling membahu. Bergandeng tangan seolah
saudara yang lama sudah dikenal. Tatapan rumah revolusi ini ikut tersenyum,
yang mana sejak lama tak pernah tersenyum hanya kesunyian malam dan siang yang
terus melandak rumah ini. Tapi sekarang kesunyian itu sudah di terobati dengan
kebahagian, keakraban dan saling tolong menolong.
Dalam ketulusan ada keikhlasan, dalam
keikhlasan ada kesabaran. dalam kesabaran ada tawakal Ketika tawakal ada doa. Setiap
doa terurai untaian kata Kata mengalir atas jajaran abjad Dan abjad. terbentuk
atas garis yang berirama Kau tahu dari mana garis itu terbentuk. Dia terbentuk
atas rangkaian titik yang tulus. Tahukah kau apa arti semua yang kutulis? Artinya,
dalam cinta dan kasih sayang bermuaralah di sebuah titik. Sebuah titik yang
‘kan menyatukan si isi rumah yang berarti cinta, kasih sayang, pegorbanan dan
perjuangan telah menyatuh. Bagaikan tali pengikat sapu lidi yang tak akan
patah.
Ketulusan hati yang mereka
tanamkan tak tercabut lagi. Saling merenggu, saling memberi kepercayaan membuat
semua tak perdaya. Apalagi ketika mereka saling berjabat tangan, saling menyapa
baik dalam keadaan suram maupun senang. Ketulusan itu juga sering timbul ketika
dalam memahamkan pikiran yang tadinya tak jernih menjadi putih tak bernoda.
Putih bagaikan kesucian pada air yang tenang dan jernih ini. Semisalkan rinto
diberi amanah, maka dengan ketulusan mengambil amanah rumah ini untuk
memberikan sentuhan-sentuhan jiwa dan ide. Ia tak kenal lelah, sebesar apapun
masalah tetap di jalankan.
Untaian doa dari penghuni rumah
ini seakan rumah menjadi bersih, bagaikan air yang mengalir dari tempat yang pancuran
air liar. Doa terus di panjatkan untuk tetap istiqoma dalam menghadapi masa
depan. Saling mendoakan tetap terucapkan pada bibir mereka, seolah ikatan suci
ini tak merasa pendam. Mereka mengobati rindu dengan tutur kata doa yang setiap
hari setiap malam terucap.
Tawakal kepada allah telah
menjadikan dinding-dinding rumah revolusi terlihat elok dan cantik. Rumah
revolusi di isi dengan orang yang bersujud syukur dengan rabbnya. Gemurangan
takbir, lentahun ayat-ayat allah dan bersujud kepada allah tak pernah putus.
Membuat rumah ini seakan merasa tenang di jiwa, hati dan pikiran para penghuni.
Saling mengajarkan dan membenah ketika sesuatu yang salah, untuk kemudian di
benarkan. Rinto dianggap sebagai guru, selalu membarikan pencarahan buat
penghuni rumah.
Di kalah pagi hari terlihat penghuni rumah memandang wajah bahagia.
seolah berharap ada yang
menyapa Beriring denagan mentari
yang mulai memancarkan
sinarnya. Bayangan yang indah terlihat jika itu datang dari senyum penghun.
Ada sesuatu yang menyapa tiap paginya Hingga semua tahu ikatan mereka yang begitu kokoh.
Kala siang Mungkin
semua pernah terbayang. Dengan mereka yang seolah
berkasih sayang rumah revolusi terlihat
jelas.
Berharap ada yang menemani Melewati
terik panas mentari Bayangkan betapa bahagia jika seseorang miliki Ada seseorang
yang bersamamu tiap hari Hingga kau sadar
ada ikatan suci
persahabatan. Hingga sore tiba Mungkin semua orang pernah mengira dengan mereka yang
seolah berbagi rasa Berharap ada yang mau bersama. Menikmati mentari menuju senja ini
semua tak teramal buruk tapi ada bahagia.
Ada seseorang yang mau berbagi
canda tawa, hingga kau paham ikatan persahabatan mereka. hingga
datang lah
malam Mungkin
saat itu semua sudah paham dengan
berbagai karakter. yang
harus bertahan, hadapi semua cobaan godaan
Menunggu datangnya senja yang terang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar