Senin, 14 September 2015



BERAWAL DARI IMPIAN
Inilah sepenggal kisah yang menceritakan sesosok manusia dari timur. kehidupan anak yang ingin bercita-cita untuk meraih kesuksesan dan impian yang akan di raihnya. Di mana  selalu melalui hari-harinya dengan senyum dan semangat yang begitu tinggi  tak merasa sedikutpun ada yang menganjang di benahnya pemikiran-pemikaran yang akan menghalinginya. Saya lahir dari keluarga yang tidak mampu tetapi rasa syukur yang dalam walaupun terlahir dari kalangan keluarga yang tak mampu. Tak terasa aku sudah mau menginjakkan kakiku dibangku SD menunjukkan umurku saat itu 7 tahun. Saat di bangku SD saya ini pernah tinggal kelas akan tetapi cita-cita yang saya impikan tak pernah pudar seperti biasa pagi hari selalu melangkakan kakiku ke sekolah dengan semangat guna untuk mendapatkan ilmu. Saya pun tak akan perna takut dengan impian yang telah aku tulis di dalam memori saya karna aku yakin dengan bermimpi saya akan mendapatkan hasilnya. Dengan doa, dan dukungan  kedua orang tua aku terus berjalan mengukir cita-cita ini tanpa ragu sedikit pun yang terbayang di benang saya untuk kemudian ingin menjadi tentara, polisi, guru bahkan presiden tidak ada dibenagku untuk menjadi ustads atau penjuang islam. Saya percaya bahwa banyak orang yang bermimpi besar tetapi mimpi-mimpi itu hanya tersimpah di dalam memori mereka karna mereka tereliminasi oleh zaman, di kalangan anak muda saat ini di kampung halaman saya di tomia mereka lebih memilih untuk menjadi pelayar dari pada menjadi pelajar. Sehingga mereka harus menghadapi ombang di laut dari pada duduk di bangku sekolah ini juga di sebabkan factor ekonomi yang tidak cukup.
 Henry Ford orang miskin, tetapi dia bisa bermimpi tentang kereta yang tidak ditarik kuda. Mulai bekerja hanya dengan peralatan yang di milikinya, tanpa menunggu peluang yang menguntungkan dia. Kini, bukti tentang impiannya dirasakan orang di seluruh dunia. Dia membuat banyak roda bergulir di seluruh permukaan bumi karena tidak gentar mendukung impian-impiannya. Ia memproduksi jutaan mobil, dan membuat impian setiap orang menjadi nyata untuk memiliki mobil sendiri-sendiri. coba Anda bayangkan dunia saat ini tanpa kendaraan bermotor. Inilah salah satu contoh orang yang bermimpi besar untuk meraih kesuksesan yang begitu di rasakan orang lain bukan hanya dirinya sendiri.
 Setelah kelas 6 SD saya pun pindah di kampung halaman ibuku yaitu Buton Utara khsusnya di ereke, di sanalah aku banyak belajar. Di kampung ini ibuku salalu mengajari saya untuk hidup mandari. Kami sekeluarga ibu saya dan adik-adik saya tinggal bersama nenek saya karena kami hanya numpang di rumah nenekku. Rumah panggung yang sederhana itulah tempat tinggal kami sekeluarga pada saat itu kami tidak punya rumah di ereke sehingga harus tinggal dengan nenek. Nenek saya hanya pedagang sayur, kelapa dan lain-lainnya di pasar. Setiap nenek pulang dari pasar tidak pernah lupa untuk membelikan cucu-cucunya makanan ringat seperti roti atau sejenisnya untuk di makan. Setiap shubuh sehabis sholat nenek dengan semangatnya harus pergi di pasar untuk berjualan padahan umur beliau sangat tua yaitu berkisar 70 tahun keatas umur yang seharusnya untuk beristrahat malah di gunakan untuk berjualan. Si nenek ini rutin berdagang kalau kita pikir seharusnya orang tua ini harus lebih banyak dirumah dari pada jalan, jarak pasar dan rumah cukup jauh untuk kita tempu tetapi dengan semangat dan kuatnya berjalan kaki dia dengan senang menjalinnya. Sosok nenek ini juga tidak pernah menigalkan sholat lima waktunya setiap hari dia rutin menjalankan ibadah dan ketaatan dia terhadap perintah allah swt. Dari sosok nenek inilah saya banyak belajar untuk hidup dan taat kepada perintah agama tapi apadaya dengan kondisi lingkungan yang begitu keras perintah allah itu kita lalaikan. Saya hanya banyak bermain daripada menjalankan agama allah.
Ø  FAJAR PAGI
Setelah kepergian ibu dan adik saya dari ereke ke daerah timur Indonesia yaitu papua maka tinggallah saya bersama nenek. Ibu saya ikut bersama bapakku mengadup nasib di papua walaupun dengan melawati ganasnya perairan laut banda dan laut papua. Dan saat saya sudah duduk di bangku SMP ibu meninggakanku karna saya harus sekolah. Setiap pagi seperti biasa nenek saya pergi di pasar maka saat itu tinggal saya sendiri di rumah. Saya pun juga seperti biasa pagi-pagi kesekolah untuk meraih cita-cita saya yang sudah saya tulis di memori saya. Tapi ada suatu yang menganjal pada diri saya yaitu untuk menunaikan ke islaman saya dalam menjalankan perintah allah swt maka pada saat itupun saya tidak pernah meninggalkan sholat saya di mesjid. Dengan hati senang si nenek tadi bangga terhadap saya karna dulunya saya tidak perna sholat walaupun selalu di ingatkan tetapi secara tiba-tiba saya rajin ke mesjid. Di sinilah saya belajar menghargai waktu saya untuk beribadah kepada allah, walaupun saya sakit ataupun hujan tapi selalunya saya kemesjid. Tapi apadaya ketika setiap hari aku kemesjid yang hanya aku temui adalah orang tua tidak ada anak muda yang sholat di mesjid apakah mereka sholatnya di rumah ataupun hanya hura-hura saja, itulah wajah anak muda sekarang mereka lebih memilih hidup sia-sia dari pada menunaikan perintah allah.
 Orang yang sholat juga tidak pernah penuh kadang hanya 5 orang kadang juga hanya 10 orang itupun hanya orang tua. Di waktu aku berjalan sholat kemesjid pada sholat ashar aku duduk-duduk di samping tembok mesjid menungu iqoma tiba-tiba ada seorang ustad memangil saya untuk duduk di sampingnya , akupun berdiri untuk menghapirinya sesampaiku di tempatnya duduk aku. langsung di Tanya rumahku dan anaknya siapa dengan ragu-ragu saya menjawab dengan sopan. Ternyata ustad ini adalah seorang guru SD dan istrinya juga guru dan teman dekat mamaku saat itu masih kecil. Dan juga beliau ternyata adalah jamaan tablik, yang selalu berdakwah dan mengajak orang untuk ke mesjid namanya ustad Ramsudi, S,pd mereka rajin berdakwah di masyarakat, walaupun hinaan, cacian bahkan kata-kata kasar selalu terucapkan pada kalangan masyarakat tetapi mereka tetap tabah dan sabar menghadipinya. Di saat itu memag jamaah tablik di kampung cukup banyak, pada akhirnya saya pun ikut dia berdakwah di rumah-rumah tetangga, Aku selalu di ajak di rumah beliau. Aku rajin belajar agama bersama mereka tak di sangka saya di jadikan remaja mesjid pada saat itu, saya yang selalu muazin mesjid, putar radio. Tapi ada cerita unik ketika saya azan di mesjid setiap selesai sholat banyak kalangan masyarakat yang mengertawai azan saya karna suara saya yang tak sampai. Tapi ada juga yang sadar dan mau ke mesjid untuk bergabung sholat sama berjamaah setelah mendengar azan dari saya, dari sinilah saya berdakwah walaupun banyak mengertawai azan saya tapi ada juga yang datang sholat.
Sewaktu saya melaksanakan sholat magrib di mesjid tiba-tiba ada seseorang yang menjumpai saya di mesjid untuk mengabarkan saya bahwa mama dan adik saya sudah tiba di rumah, setelah selesai sholat pun aku bergegas kerumah dengan hati yang senag. Ketika saya tiba di rumah aku merasa kaget mamaku mengendong bayi perumpuan yang umurnya baru 1 tahun lebih, ternyata bayi itu adalah adikku. Disaat itu aku merasa bangga dengan kehadiran adik perumpuanku itu karna adik saya yang dua ini adalah laki-laki. Setelah lama saya tinggal di keluarga karna sekian lama saya terpisah sama mamaku ternyata bibi saya di tomia menjemput saya dan adikku untuk sekolah kembali di tomia saya pun tidak menolak tawaran itu. Dengan hati senang dan rindu saya pun ikut dengan tujuan ketika saya tiba di sana saya akan mengaplikasikan ilmu artinya saya berdakwah di tomia. Tapi apadanya semangat itu pudar bagaikan kunang-kunag kehilangan cahaya saya termakan zaman.Dengan kehidupan yang begitu keras kita tinggal di tomia, lingkungan mempengaruhi saya sehingga saya lupa dengan waktu sholat lupa dengan berdakwah ini lah kerasnya system demokrasi terhadap pemuda saat ini. Mereka termakan oleh budaya dan masuk pada lian kemaksiatan memisahkan agama dengan kehidupan itulah sifat sekularisme. Moral pemuda saat ini tidak berfungsi mereka lebih senang meminum minuman keras, membuat acara joget dan lain sebagainya. Akhirnya setelah tamat SMP pada saat itu saya lebih memilih hidup di daerah timur Indonesia yaitu papua.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar